Abstrak
Pengaruh Modulus Silikat dan Proporsi Prekursor terhadap Kemampuan Alir Mortar Alkali-Activated Materials Berbasis Slag/Fly Ash (Konsentrasi Aktivator Tetap 6%)
Oleh :
Zaki Rahman Hudy - I0122185 - Fak. Teknik
Industri konstruksi sangat bergantung pada Semen Portland biasa (OPC) yang
produksinya menyumbang emisi CO2 global. Alkali-Activated Materials (AAM)
berbasis slag/fly ash muncul sebagai alternatif pengikat ramah lingkungan, namun
keberhasilan aplikasinya sangat ditentukan oleh kemampuan alir (flowability)
mortar segar. Flowability dipengaruhi oleh modulus silikat (rasio SiO2/Na2O) dan
proporsi prekursor (rasio slag/fly ash), yang interaksi simultannya pada konsentrasi
aktivator tetap belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh
variasi modulus silikat (0,75; 1,00; dan 1,25) dan proporsi prekursor (85/15; 75/25;
dan 65/35), baik secara terpisah maupun interaksi keduanya, terhadap flowability
mortar AAM berbasis slag/fly ash dengan konsentrasi aktivator tetap 6% Na2O.
Penelitian menggunakan metode kuantitatif eksperimental dengan rancangan
faktorial, menghasilkan 9 variasi campuran dengan rasio alkali terhadap binder
(Al/Bi) tetap sebesar 0,45. Tahapan penelitian meliputi karakterisasi bahan (slag
dan fly ash diuji XRF; agregat halus diuji gradasi, specific gravity, kadar air, dan
bulk density), penyusunan mix design, pembuatan benda uji mengacu ASTM C305,
serta pengujian flowability menggunakan flow table sesuai standar ASTM C1437.
Data hasil pengujian dianalisis menggunakan Microsoft Excel untuk mengevaluasi
pengaruh masing-masing variabel dan interaksinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa modulus silikat berpengaruh negatif paling
dominan terhadap flowability, dengan penurunan rata-rata 54% pada rentang Ms
0,75–1,00 dan 22,7% pada rentang Ms 1,00–1,25, mengindikasikan adanya ambang
batas kritis pada rentang tersebut. Sebaliknya, peningkatan proporsi fly ash
berpengaruh positif terhadap flowability, dengan peningkatan terbesar (35%) terjadi
pada modulus silikat 1,00. Interaksi kedua variabel menghasilkan tiga zona perilaku
berbeda: zona fluiditas tinggi tak-sensitif (Ms 0,75; flow 84–93%), zona kritis
sensitif (Ms 1,00; flow 20–55%), dan zona fluiditas rendah tak-sensitif (Ms 1,25;
flow 9–15%). Temuan ini menegaskan bahwa optimasi mix design mortar AAM
harus mempertimbangkan interaksi simultan kedua variabel.