Abstrak


Nilai Ekonomi Wisata Pulau Kumala Tenggarong Pasca Revitalisasi


Oleh :
Aura Amanda Carismaya - H1022011 - Fak. Pertanian

Wisata adalah kegiatan perjalanan sementara untuk rekreasi, pembelajaran, atau pengembangan diri, sedangkan pariwisata mencakup dampak sosial, ekonomi, dan budaya dari aktivitas tersebut. Pulau Kumala di Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan destinasi wisata alam seluas ±76 ha di delta Sungai Mahakam yang menjadi ikon wisata berbasis alam dan budaya. Untuk meningkatkan daya tariknya, diperlukan revitalisasi berkelanjutan guna meningkatkan nilai ekonomi wisata. Nilai ekonomi wisata tersebut dapat diukur menggunakan pendekatan Willingness to Pay (WTP) dan Travel Cost Method (TCM). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data primer dari kuesioner, wawancara, dan observasi, serta data sekunder dari Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara. Sampel sebanyak 100 responden serta analisis data mencakup karakteristik pengunjung, Individual Travel Cost Method (ITCM), dan Willingness to Pay (WTP) dengan teknik payment card. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung Pulau Kumala didominasi oleh wisatawan perempuan usia 21–25 tahun, berstatus pelajar/mahasiswa, berpendapatan menengah, dan berasal dari wilayah sekitar Tenggarong, sehingga mencerminkan destinasi wisata lokal yang mudah diakses dan diminati usia produktif. Mayoritas pengunjung belum menikah, datang bersama keluarga, serta memiliki kunjungan ulang yang cukup tinggi. Pulau Kumala menjadi tujuan utama rekreasi dengan durasi singkat (1–3 jam), sementara informasi kunjungan didominasi pengalaman sebelumnya dan rekomendasi mulut ke mulut. Analisis ITCM menunjukkan biaya perjalanan berpengaruh negatif terhadap tingkat kunjungan, dengan nilai ekonomi wisata mencapai sekitar Rp10.985.110.344,76. Sementara itu, rata-rata WTP sebesar Rp17.200 dengan potensi tambahan pendapatan sekitar Rp32.613.725 per bulan, dan hanya variabel usia yang berpengaruh signifikan terhadap WTP, sedangkan faktor lain tidak signifikan karena lebih dipengaruhi persepsi kualitas, kenyamanan, kepuasan, dan pengalaman wisata.