Abstrak


STUDI FENOMENOLOGI:MENTAL HEALTH AWARENESS SISWA YANG MENGALAMI ACES (ADVERSE CHILDHOOD EXPERIENCES)


Oleh :
Fitria Sukmawati - K3122034 - Fak. KIP

Fenomena saat ini menunjukkan bahwa meskipun siswa memiliki pengalaman ACEs, mereka mulai mampu mengenali kondisi emosinya dan mencari bantuan terhadap kondisi psikologis yang dialami sehingga memiliki mental health awareness yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses dibentuk, mengetahui gambaran, dan pemaknaan mental health awareness siswa kelas X yang mengalami ACEs.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode studi fenomenologi dengan jenis fenomenologi deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 3 siswa SMK di salah satu Kabupaten Boyolali. Pemilihan subjek pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pada proses pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara yang telah divalidasi dengan indeks Aikens V. Analisis data menggunakan analisis deskriptif Van Kaam (dalam Moustakas) yang kemudian divalidasi dengan member checking. Hasil analisis data menunjukkan bahwa (1) proses terbentuknya mental health awareness siswa yang mengalami ACEs dipengaruhi oleh perkembangan usia, pengalaman hidup, kematangan proses berpikir, dan juga pengaruh dari lingkungan sosialnya. (2) gambaran kondisi mental health awareness siswa yang mengalami ACEs tergambar melalui aspek recognition, knowledge, dan understanding menunjukkan bahwa subjek A secara umum mampu berperilaku produktif dan berprestasi, subjek B menampilkan keceriaan dan usaha memahami diri, dan subjek C di mana terlihat memiliki kesadaran akan kesehatan mental yang baik. (3) pemaknaan mental health awareness dari Subjek A yakni ingin menjadi pribadi kuat, mandiri, dan dapat diandalkan. Subjek B memaknainya sebagai perjalanan hidup untuk bisa menerima dirinya, sedangkan subjek C memaknainya sebagai sarana untuk mendapatkan perhatian dan validasi yang tidak ia peroleh dari keluarganya. Pemaknaan ini, tidak menjadikan alasan bagi subjek untuk menyerah dalam hidup sebaliknya pengalaman tersebut dimaknai sebagai proses pendewasaan diri dan pembentukan kesadaran kesehatan mental pada diri. Bagi Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan media, menguji efektivitas layanan konseling, ataupun menguji keterkaitan mental health awareness dengan regulasi emosi, self-acceptance, dan mekanisme koping.