Abstrak


Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Biogas Skala Mikro


Oleh :
Faricha Nur Ainisa - I0619018 - Fak. Teknik

Peningkatan jumlah penduduk mendorong tingginya permintaan terhadap produk peternakan sapi, yang di sisi lain turut meningkatkan pencemaran lingkungan akibat limbah kotoran ternak. Salah satu upaya penanganan permasalahan tersebut dilakukan melalui Program Kampung Iklim (Proklim), dengan pengelolaan biogas skala mikro dari limbah ternak sebagai salah satu bentuk aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. RW 03 Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali merupakan salah satu kampung iklim yang berhasil mengembangkan biogas skala mikro sejak tahun 2008 dan memperoleh penghargaan Proklim kategori utama pada tahun 2017 serta kategori lestari pada tahun 2021. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran aktif masyarakat serta dukungan berbagai pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan biogas skala mikro di RW 03 Desa Sruni. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dengan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Data primer diperoleh melalui kuesioner terhadap responden terpilih dengan teknik purposive sampling, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif berupa skoring dengan skala Likert yang diklasifikasikan berdasarkan delapan tangga partisipasi menurut Arnstein (1969). Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat terjadi pada seluruh tahapan pengembangan biogas skala mikro, mulai dari persiapan perencanaan, pelaksanaan, hingga pemanfaatan hasil dan evaluasi, dengan melibatkan KTH Agni Mandiri sebagai kelompok penggerak utama di tingkat lokal bersama pemerintah daerah, lembaga nonpemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Tingkat partisipasi masyarakat RW 03 Desa Sruni memperoleh skor akhir sebesar 79,3%, yang menurut tangga partisipasi Arnstein tergolong pada tangga pelimpahan kekuasaan (delegated power) dengan klasifikasi partisipasi tinggi. Tahapan pelaksanaan memperoleh nilai tertinggi (85%), diikuti tahapan pemanfaatan hasil dan evaluasi (78%), sedangkan tahapan persiapan perencanaan memperoleh nilai terendah (75%). Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih dominan berperan pada tahap operasional yang manfaatnya dirasakan secara langsung, dibandingkan pada tahap perencanaan yang bersifat teknis.