Abstrak
Analisis Penerapan Node Place Model di Kawasan Stasiun Kutoarjo
Oleh :
Gian Mahardika Setia Budi - I0622039 - Fak. Teknik
Kawasan stasiun kereta api idealnya berfungsi sebagai simpul transportasi (node) dan pusat aktivitas perkotaan (place). Namun, pertumbuhan aksesibilitas yang tidak diimbangi oleh perkembangan guna lahan dapat menciptakan ketimpangan fungsional. Kawasan Stasiun Kutoarjo menunjukkan indikasi ketimpangan tersebut, dengan tingginya volume penumpang Commuter Line Prameks dan keberadaan Terminal Bus Tipe B yang belum diikuti oleh intensitas aktivitas ekonomi yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Node Place Model di Kawasan Stasiun Kutoarjo, dengan fokus pada pengukuran komponen node dan place serta penentuan tingkat keseimbangannya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan mengumpulkan data primer melalui observasi lapangan dan data sekunder dari instansi terkait. Analisis dilakukan dengan menghitung Node Index (meliputi aksesibilitas eksternal dan internal) dan Place Index (meliputi kepadatan, intensitas guna lahan, dan keberagaman fungsi) menggunakan metode normalisasi distance to a reference dan rata-rata bertingkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Node Index mencapai 0,63 (kategori tinggi), didorong oleh aksesibilitas eksternal yang kuat, namun aksesibilitas internal masih terkendala oleh kualitas infrastruktur pejalan kaki yang rendah dan keterputusan jalur pedestrian pada ruas-ruas jalan strategis. Sebaliknya, Place Index hanya mencapai 0,42 (kategori rendah) dengan kelemahan utama pada kepadatan penduduk dan bangunan yang jauh di bawah standar ideal serta intensitas pemanfaatan ruang yang minim. Selain itu, tingkat keberagaman fungsi (degree of functional mix) yang masih rendah (0,47) mengindikasikan distribusi sektor ekonomi yang belum merata. Kondisi ini mengonfirmasi bahwa Kawasan Stasiun Kutoarjo masih berada pada klasifikasi accesibility, pada kategori di mana fungsi transportasi telah berkembang tetapi belum diimbangi oleh vitalitas aktivitas perkotaan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi penguatan sisi place melalui intensifikasi pemanfaatan ruang secara vertikal, peningkatan kepadatan kawasan, serta implementasi Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Transit Oriented Development (TOD) Kutoarjo sebagai payung hukum pengembangan kawasan yang berorientasi transit.