;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses negosiasi identitas gender para penari di Sanggar Asem Gede, Losarang, Indramayu di tengah persimpangan antara tradisi dan modernitas. Penelitian berfokus pada alasan terbentuknya negosiasi identitas, bentuk-bentuk negosiasi yang dijalani para penari, serta tantangan sosial, budaya, dan struktural yang mereka hadapi dalam mengekspresikan identitas gender melalui praktik seni tari.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi budaya yang dianalisis menggunakan teori performativitas gender Judith Butler dan teori negosiasi identitas Stella Ting-Toomey. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan penari, pelatih, dan pengelola sanggar, serta dokumentasi visual terhadap aktivitas latihan maupun pertunjukan. Data dianalisis secara interpretatif untuk memahami praktik performatif dan proses negosiasi identitas gender dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Indramayu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa negosiasi identitas gender terbentuk karena Sanggar Asem Gede menjadi ruang sosial yang mempertemukan nilai-nilai budaya lokal, tuntutan pelestarian seni, dan pengaruh modernitas sehingga para penari terus menyesuaikan identitas mereka dalam berbagai konteks pertunjukan maupun kehidupan sehari-hari. Bentuk-bentuk negosiasi identitas diwujudkan melalui praktik performatif yang mencakup ekspresi tubuh, gerak tari, penggunaan kostum, pembagian peran, serta cara para penari memaknai identitas gender sesuai konteks tradisi maupun pertunjukan kontemporer. Dalam proses tersebut, para penari menghadapi berbagai tantangan berupa stereotip gender, ekspektasi keluarga dan masyarakat, norma budaya lokal, serta keterbatasan ruang sosial yang memengaruhi kebebasan mereka dalam mengekspresikan identitas gender.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa negosiasi identitas gender merupakan proses yang dinamis, kontekstual, dan berkelanjutan, yang dibentuk melalui interaksi antara tradisi, modernitas, serta relasi sosial yang berkembang di masyarakat. Sanggar Asem Gede tidak hanya berfungsi sebagai ruang pelestarian seni tari, tetapi juga sebagai arena sosial dan budaya tempat identitas gender dikonstruksi, dipertunjukkan, dan dinegosiasikan secara terus-menerus.