Abstrak


Studi Fenomenologi: Kecenderungan Sociopath pada Peserta Didik Nomophobia


Oleh :
Sabrina Mubarokah - K3122071 - Fak. KIP

Peserta didik idealnya menghargai norma sosial dan membangun hubungan yang sehat, namun realitanya sebagian justru menunjukkan perilaku menyimpang yang mengarah pada karakteristik sociopath. Fenomena ini muncul di tengah kemajuan teknologi yang melahirkan fenomena nomophobia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemaknaan sociopath pada peserta didik nomophobia dengan kecenderungan sociopath. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode studi fenomenologi. Sumber data penelitian yaitu 3 (tiga) peserta didik SMKN 1 Surakarta yang memenuhi kriteria memiliki kecenderungan sociopath serta mengalami nomophobia. Pengumpulan data menggunakan instrumen wawancara yang telah diuji validitas. Analisis data menggunakan teknik Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pemaknaan subjektif masing-masing subjek terhadap sociopath sebagai berikut. (1) Aspek moral menyimpang, Subjek I memaknai pelanggaran aturan sebagai ekspresi kebebasan masa muda yang menyenangkan; Subjek II memaknainya sebagai pilihan yang dapat dibenarkan selama tidak diketahui orang lain; Subjek III memaknainya sebagai kebiasaan yang wajar karena teman-temannya melakukan hal serupa. (2) Aspek emosi tidak stabil, Subjek I memaknai luapan emosi kasar sebagai respons alami yang tidak perlu dikontrol; Subjek II memaknainya sebagai ketegasan yang wajar dari seorang laki-laki; Subjek III memaknainya sebagai reaksi spontan yang wajar muncul tanpa perlu dikendalikan. (3) Aspek kesulitan mengendalikan diri, Subjek I memaknai keinginan sebagai sesuatu yang wajib terpenuhi dan tindakan spontan sebagai hal yang seru; Subjek II memaknai keinginan jauh lebih bernilai dibanding risiko; Subjek III memaknai keinginan lebih kuat dari tanggung jawab yang dimiliki. (4) Aspek narsisme ekstrem, Subjek I memaknai tindakan memanfaatkan orang lain sebagai hal sepele tanpa penyesalan; Subjek II memaknainya sebagai kesalahan dalam konflik selalu berasal dari pihak lain; Subjek III memaknainya sebagai pendapatnya selalu lebih benar. (5) Aspek minimnya empati, Subjek I memaknai kepedulian sebagai sesuatu yang merepotkan diri sendiri; Subjek II memaknainya dengan bukan urusannya apabila tidak berkaitan dengannya; Subjek III memaknainya dengan cukup sebatas rasa kasihan. Temuan ini menegaskan bahwa kondisi nomophobia yang melingkupi ketiga subjek tidak sekadar hadir sebagai latar belakang, melainkan turut mewarnai cara mereka memaknai berbagai hal disekitarnya. Peneliti selanjutnya disarankan mengembangkan intervensi bimbingan dan konseling yang tepat untuk menangani permasalahan nomophobia dan sociopath pada peserta didik.