Abstrak
Transformasi Sistem Religi Masyarakat Dayak Kaharingan di Desa Pasir Panjang
Oleh :
Nur Aliya Widya Putri - K8422058 - Fak. KIP
Nur Aliya Widya Putri. K8422058. Pembimbing: Dr. Okta
Hadi Nurcahyono, S.Pd., M.Si., M.A TRANSFORMASI SISTEM RELIGI MASYARAKAT
DAYAK KAHARINGAN DI DESA PASIR PANJANG. Skripsi. Surakarta: Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Juli 2026 Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk
transformasi sistem religi masyarakat Dayak Kaharingan di Desa Pasir Panjang,
dan (2) mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi
sistem religi pada masyarakat Dayak Kaharingan di Desa Pasir Panjang. Penelitian
ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain etnografi. Subjek penelitian
adalah masyarakat Dayak Kaharingan di Desa Pasir Panjang, Kabupaten
Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sumber data
penelitian meliputi narasumber, peristiwa, tempat, dan dokumen. Teknik
pengambilan sampel dilakukan dengan snowball sampling. Pengumpulan data
dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi,
catatan lapangan, dan studi literatur. Uji Validitas data menggunakan
triangulasi sumber. Analisis data menggunakan analisis tema kultural model
Spradley. Hasil penelitian menunjukkan: (1) transformasi sistem religi
masyarakat Dayak Kaharingan di Desa Pasir Panjang terjadi pada lima unsur sistem
religi, yaitu emosi keagamaan, sistem kepercayaan, sistem upacara keagamaan,
umat atau kesatuan sosial, serta peralatan upacara dan simbol keagamaan.
Perubahan tersebut terlihat dari berkurangnya jumlah penganut Kaharingan,
perubahan pelaksanaan ritual, beralihnya sebagian masyarakat ke agama lain,
serta menurunnya penggunaan simbol-simbol religi dalam kehidupan
sehari-hari.Meskipun demikian, sebagian masyarakat masih bisa berupaya mempertahankan tradisi dan identitas
religi Kaharingan sebagai warisan budaya leluhur. (2) Transformasi sistem
religi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
meliputi perubahan cara pandang generasi muda, perkawinan lintas agama, dan
melemahnya pewarisan ajaran Kaharingan antargenerasi. Faktor eksternal meliputi
masuknya agama lain, pengaruh modernisasi dan globalisasi, meningkatnya
pendidikan, serta semakin luasnya interaksi masyarakat dengan dunia luar.
Temuan penelitian ini mengkonfirmasi Teori Perubahan Sosial Budaya Piotr
Sztompka bahwa transformasi sosial budaya berlangsung secara bertahap sebagai
akibat dari interaksi antara faktor internal dan eksternal, sehingga
menghasilkan perubahan pada nilai, kepercayaan, dan praktik kehidupan
masyarakat.