Abstrak


“Menjadi Perempuan Ideal Menggunakan Feminine Energy”: Studi Fenomenologi Pada Praktik Performativitas Gender Oleh Perempuan Gen Z Di Surakarta


Oleh :
Ania Salsabila Sururoh - D0321016 - Fak. ISIP

Konten feminine energy menjadi salah satu konsep yang berkembang di media sosial TikTok yang secara masif menarasikan konsep tersebut sebagai sebuah karakteristik alami yang seharusnya dimiliki perempuan. Narasi ini menekankan pada karakteristik perilaku, cara berpenampilan, serta pengelolaan diri yang diarahkan pada pembentukan citra feminin dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks relasi sosial dan hubungan heteroseksual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perempuan Generasi Z memahami dan memaknai konsep feminine energy, serta bagaimana pemahaman tersebut mendorong mereka melakukan praktik performativitas gender dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk internalisasi seksisme yang muncul setelah informan mengonsumsi dan mempraktikkan nilai yang terdapat dalam konsep tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif informan. Penelitian ini secara khusus dilakukan di Kota Surakarta. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria informan perempuan yang termasuk dalam rentang usia Generasi Z dan berdomisili di Surakarta. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka Teori Performativitas Gender oleh Judith Butler (1990) dan konsep internalisasi seksisme oleh Boznar Bokur (2020). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi yang kemudian validasinya diuji menggunakan triangulasi sumber agar dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep feminine energy dipahami oleh perempuan Generasi Z sebagai sesuatu yang alami dan menjadi standar perempuan ideal. Pemahaman tersebut kemudian mendorong upaya penyesuaian perilaku, penampilan, dan cara berkomunikasi, serta meninggalkan hal yang dianggap maskulin. Temuan juga menunjukkan bahwa penerimaan terhadap konsep tetap terjadi meskipun informan menyadari kesesuaiannya dengan nilai gender tradisional karena dianggap tidak merugikan. Hal ini memperkuat internalisasi seksisme yang terlihat dari kecenderungan membatasi dan mengontrol diri sesuai standar tersebut serta mereproduksinya dalam kehidupan sehari-hari.