Abstrak
Pengembangan Produk Tanaman Hias Dinding Berbasis Preserved Moss untuk Meningkatkan Nilai Tambah
Oleh :
Fachry Albar Maulana - V4123027 - Sekolah Vokasi
Preserved moss wall merupakan salah satu produk dekorasi interior yang
memanfaatkan lumut alami (moss) yang telah melalui proses preservasi
sehingga mampu mempertahankan bentuk, tekstur, dan warna dalam jangka waktu
yang lama tanpa memerlukan penyiraman, pemupukan, maupun paparan sinar matahari
secara langsung. Produk ini memiliki nilai estetika yang tinggi serta sejalan
dengan meningkatnya tren dekorasi interior yang mengedepankan konsep alami (biophilic
design). pengembangan usaha preserved moss wall memiliki peluang
yang baik sebagai produk tanaman hias bernilai ekonomis. Tugas Akhir ini bertujuan untuk
mendeskripsikan proses produksi preserved moss wall, menganalisis
kelayakan usaha, serta mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap produk
yang dipasarkan oleh Premoss.id. Proses produksi diawali dengan preservasi moss
mutiara menggunakan larutan gliserin, dilanjutkan dengan persiapan media,
perancangan desain, penempelan preserved moss beserta elemen dekoratif,
dan diakhiri dengan tahap finishing. Tahapan tersebut menghasilkan
produk dekorasi dinding yang memiliki tampilan alami, mudah dirawat, dan
memiliki daya tahan yang relatif lama.Strategi pemasaran yang diterapkan menggunakan konsep
bauran pemasaran (4P), yaitu product, price, place, dan promotion.
Produk yang ditawarkan berupa preserved moss wall dengan berbagai
pilihan ukuran dan desain yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Harga jual ditetapkan berdasarkan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan
kondisi pasar sehingga tetap kompetitif. Pemasaran dilakukan melalui media
sosial dan marketplace, serta didukung dengan strategi promosi word
of mouth untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
Hasil analisis usaha menunjukkan bahwa total biaya
produksi dalam satu periode produksi sebesar Rp1.287.550,00, yang terdiri atas
biaya tetap sebesar Rp550,00 dan biaya variabel sebesar Rp1.287.000,00.
Berdasarkan total biaya tersebut diperoleh Harga Pokok Produksi (HPP) sebagai
dasar penetapan harga jual sebesar Rp35.000,00 per unit. Dengan jumlah produksi
sebanyak 50 unit, total penerimaan yang diperoleh mencapai Rp1.750.000,00,
sedangkan keuntungan bersih yang dihasilkan sebesar Rp462.450,00. Hasil
analisis kelayakan usaha menunjukkan nilai R/C Ratio sebesar 1,36, yang
mengindikasikan bahwa usaha layak untuk dijalankan karena setiap pengeluaran
Rp1,00 menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,36. Nilai B/C Ratio sebesar
0,36 menunjukkan bahwa setiap pengeluaran Rp1,00 memberikan keuntungan bersih
sebesar Rp0,36. Selain itu, hasil analisis Break Even Point (BEP)
menunjukkan bahwa usaha akan mencapai titik impas apabila mampu menjual sekitar
37 unit produk.