Abstrak
Pemanfaatan Limbah Ampas Teh sebagai Nutrisi Organik Cair Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Pakcoy (Brassica rapa L.)
Oleh :
Aisyah Kartika Sari - V4123092 - Sekolah Vokasi
Pakcoy (Brassica rapa L.) merupakan salah satu
sayuran daun dari famili Brassicaceae yang banyak dibudidayakan karena
pertumbuhannya cepat, mudah dirawat, dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Permintaan pakcoy terus meningkat setiap tahun, sedangkan produksi pakcoy
nasional justru mengalami penurunan sehingga menyebabkan kesenjangan antara
permintaan dan ketersediaan produk. Pertumbuhan pakcoy memerlukan ketersediaan
unsur hara yang cukup sehingga nutrisi organik cair dapat diaplikasikan sebagai
sumber nutrisi bagi tanaman. Tugas akhir ini dilaksanakan untuk mengkaji
pengaruh pemberian nutrisi organik cair dari limbah ampas teh terhadap
pertumbuhan dan hasil pakcoy, menganalisis kelayakan usahatani, dan
mempraktikkan pemasaran hasil panen. Kegiatan tugas akhir dilaksanakan di
Ngemplak, Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, mulai
16 April sampai 15 Juni 2026. Metode yang digunakan meliputi pelaksanaan
praktik lapang, pengambilan data, dan kelayakan analisis usahatani. Benih
pakcoy yang digunakan adalah varietas Nauli F1. Budidaya pakcoy dilakukan
dengan dua aplikasi, yaitu kontrol (tanpa nutrisi organik cair ampas teh) dan
nutrisi organik cair ampas teh (100 ml). Tinggi tanaman, jumlah daun, dan
diameter batang diamati setiap minggu pada umur 7, 14, 21, 28, dan 35 Hari
Setelah Tanam (HST), sedangkan berat basah tanaman, panjang akar, dan berat
akar diamati saat panen. Nutrisi organik cair ampas teh (100 ml)
memberikan pertumbuhan dan hasil panen yang lebih baik dibandingkan kontrol.
Pada umur 35 HST, nutrisi organik cair ampas teh (100 ml) menghasilkan
rata-rata tinggi tanaman 24 cm, jumlah daun 15 helai, diameter batang 14,5 mm,
berat basah tanaman 120,3 gram, panjang akar 16,61 cm, dan berat akar 7,01
gram. Kontrol pada umur 35 HST, menghasilkan rata-rata tinggi tanaman 19,7 cm,
jumlah daun 13 helai, diameter batang 10,5 mm, berat basah tanaman 95,5 gram,
panjang akar 12,85 cm, dan berat akar 5,52 gram. Analisis usahatani dilakukan dengan menghitung biaya
total produksi, penerimaan, pendapatan, R/C Ratio, B/C Ratio, dan Break Event Point (BEP). Dari sisi usahatani, budidaya pakcoy masih mengalami
kerugian karena harga jual (Rp 4.000 per kg) dan hasil produksi yang dicapai
(23 kg pada kontrol dan 24 kg pada nutrisi organik cair ampas teh) belum mampu
menutup titik impas, yang masing-masing berada pada Rp 7.454 per kg dan Rp 6.116
per kg. Kondisi ini terlihat dari nilai R/C Ratio yang masih di bawah satu
serta B/C Ratio yang bernilai negatif. Pemasaran hasil panen dilakukan secara langsung kepada pedagang sayur
dan ibu rumah tangga melalui penerapan bauran pemasaran 4P (Product, Price,
Place, Promotion). Hasil kegiatan tugas akhir menunjukkan bahwa nutrisi
organik cair dari limbah ampas teh mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil
pakcoy, meskipun usahatani ini masih memerlukan perbaikan agar layak secara
ekonomi.