Abstrak
Rekayasa Mortar Geopolimer Berbasis Fly Ash Dengan Metode Pencampuran Kering (Dry-Mix) Sebagai Material Patch Repair
Oleh :
Rima Sri Agustin - T751908002 - Fak. Teknik
Semen, sebagai bahan pengikat utama
pada beton, memberikan dampak lingkungan signifikan karena proses produksinya
menyumbang emisi CO2. Karena itu, dibutuhkan bahan pengikat
alternatif yang lebih ramah lingkungan, salah satunya binder geopolimer yang sepenuhnya
bebas semen. Metode pencampuran basah (wet-mix) yang umum digunakan,
kurang efisien karena membutuhkan ruang dan waktu pada proses pelarutan alkali
aktivator dan periode pendiaman selama 24 jam. Oleh karena itu, dikembangkan
binder geopolimer dengan metode pencampuran kering (dry-mix) yang lebih
praktis karena hanya memerlukan penambahan air (just add water). Penelitian
ini bertujuan untuk merekayasa binder geopolimer berbasis fly ash dengan
metode pencampuran kering yang digunakan sebagai material patch repair yang
kompatibel secara mekanik dan dimensional.Metode penelitian yang digunakan
adalah kuantitatif eksperimen dan terdiri dari tiga fase. Fase pertama:
merancang binder geopolimer dengan metode pencampuran kering untuk memperoleh
formulasi optimal berdasarkan pengujian waktu ikat (setting time), workability,
dan kuat tekan. Material utama adalah fly ash tipe C, sodium
metasilicate pentahydrate (SIMET), dan sodium hydroxide (SH). Pada penelitian
sebelumnya ketiga bahan digiling bersama menggunakan ball mill, namun sebagian
material menempel pada dinding dan bola ball mill. Untuk mengatasi hal
tersebut, pada penelitian ini dilakukan modifikasi yaitu SH dan SIMET digiling
secara terpisah menggunakan disk mill, selanjutnya fly ash,
SIMET, dan SH diayak dengan sieve shaker no. 200, dicampur sesuai
komposisi, lalu diaduk menggunakan drill mixer hingga homogen. Fase kedua:
mengaplikasikan mortar geopolimer sebagai patch repair pada beton
substrat mutu rencana 20 MPa dan menguji kompatibilitas secara mekanik. Fase ketiga:
menguji kompatibilitas secara dimensional mortar geopolimer sebagai patch
repair. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, inferensial, dan
interpretatif.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa semakin besar fab, semakin besar waktu ikat (initial dan final
setting time), sedangkan semakin besar rasio SIMET/SH, waktu ikat semakin
kecil atau pasta geopolimer semakin cepat mengeras. Semakin besar fab dan rasio
SIMET/SH, workability (slump flow) juga semakin besar. Mix
design optimum diperoleh pada fab 0,15, rasio SIMET/SH 2,5:1, dengan kuat
tekan 28,75 MPa pada umur 28 hari. Kompatibilitas mekanik mortar perbaikan dievaluasi
melalui tiga pengujian: kuat lekat dengan metode kuat tarik belah, kuat lekat
geser, dan push-off, yang semuanya menunjukkan modulus kegagalan type B:
adhesive pada interface beton-mortar. Retak tepat pada bidang pertemuan, kedua
sisi terpisah sempurna tanpa kerusakan material. Kuat lekat metode slant shear
menghasilkan nilai kuat lekat yang lebih tinggi dibandingkan kuat tarik belah
karena pada metode slant shear, adhesi dan friksi berkontribusi terhadap
kuat lekat sedangkan pada kuat tarik belah hanya adhesi murni. Kekasaran
meningkatkan beban horizontal yang terjadi pada pengujian push-off
dan mengurangi bond slip. Hasil penelitian kompatibilitas mortar
geopolimer ditinjau secara dimensional: SPS plate memberikan kondisi
paling kritis (tanpa beton induk) sedangkan balok komposit merepresentasikan
kondisi lapangan. Elevasi kecenderungan delaminasi pada uji balok komposit
lebih kecil daripada uji plat SPS karena tegangan geser pada interface
berkurang terjadi proses pelarutan Ca(OH)2 oleh
geopolimer
sehingga menurunkan resiko delaminasi pada repair mortar. Penelitian ini menunjukkan bahwa mortar geopolimer metode dry-mix
(komposisi pasir:aktivator 60%:40%, fab 0,15, dan rasio SIMET/SH 2,5:1)
berpotensi menjadi material patch repair yang lebih ramah lingkungan,
praktis, dan tetap memiliki kinerja mekanik dan dimensional yang baik. Hasil
ini memberi kontribusi penting dalam pengembangan material perbaikan beton yang
lebih berkelanjutan sekaligus membuka peluang penerapan yang lebih luas di
bidang konstruksi.