Abstrak


Aplikasi Pupuk Kandang Kotoran Sapi pada Media Pembibitan Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Varietas Ori 212


Oleh :
Anggun Alya Septiana - V4123010 - Sekolah Vokasi

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaannya terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk serta konsumsi masyarakat. Keberhasilan budidaya cabai rawit sangat ditentukan oleh kualitas bibit yang dihasilkan pada tahap pembibitan, sehingga diperlukan media tanam yang baik untuk mendukung pertumbuhan awal tanaman. Pupuk kandang kotoran sapi dimanfaatkan sebagai salah satu bahan organik pada media pembibitan karena mampu memperbaiki struktur tanah dan menyediakan unsur hara bagi bibit. Tugas akhir ini dilaksanakan untuk mengkaji pertumbuhan bibit cabai rawit varietas Ori 212 dengan aplikasi pupuk kandang kotoran sapi serta menganalisis kelayakan ekonomi usaha pembibitannya. Kegiatan tugas akhir dilaksanakan di Turus, Kelurahan Jurug, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mulai 26 April sampai 30 Mei 2026. Media pembibitan yang digunakan berupa campuran tanah, pupuk kandang kotoran sapi, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. Pengamatan dilakukan terhadap kecepatan kecambah, daya kecambah, tinggi tanaman, dan jumlah daun bibit cabai rawit setiap 7 hari sekali hingga bibit siap dipindahkan ke lahan tanam utama. Hasil pengamatan menunjukkan kecepatan kecambah bibit cabai rawit sebesar 13,17% per etmal dengan daya kecambah mencapai 91%. Tinggi tanaman meningkat dari rata-rata 1,98 cm pada 7 Hari Setelah Semai (HSS) menjadi 12,34 cm pada 28 HSS, sedangkan jumlah daun bertambah dari 2 helai menjadi 5 helai pada periode yang sama. Analisis usahatani dilakukan dengan menghitung biaya total produksi, harga pokok produksi, penerimaan, keuntungan, R/C Ratio, B/C Ratio, dan Break Event Point (BEP). Total biaya produksi pembibitan sebesar Rp 232.175 dengan Harga Pokok Produksi (HPP) Rp 464 per bibit, sedangkan harga jual ditetapkan sebesar Rp 750 per bibit. Penjualan 500 bibit selama satu bulan menghasilkan penerimaan Rp 375.000 dan keuntungan Rp 142.825, dengan nilai R/C Ratio 1,6 dan B/C Ratio 0,6, sehingga usaha pembibitan cabai rawit ini layak untuk dijalankan. Nilai BEP produksi sebesar 310 bibit menunjukkan bahwa total produksi 500 bibit telah jauh melampaui titik impas. Pemasaran bibit cabai rawit dilakukan secara langsung kepada petani di Kabupaten Boyolali melalui penerapan strategi STP dan bauran pemasaran 4P (Product, Price, Place, Promotion).