Abstrak


Model Promosi Kesehatan, Pemberdayaan Keluarga dan Budaya Lokal Pada Perilaku Pemberian ASI Eksklusif


Oleh :
Siti Nunung Nurjannah - T512202011 - Fak. Kedokteran

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan intervensi yang efektif untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi, meningkatkan imunitas, serta mencegah stunting dan kematian bayi. Meskipun cakupan ASI eksklusif global telah mencapai 48%, angka tersebut masih di bawah target WHO sebesar 50%. Di Indonesia, cakupan ASI eksklusif baru mencapai 52,5%, sedangkan di Provinsi Jawa Barat sebesar 76,46%, masih di bawah target nasional (80%). Di Kabupaten Kuningan, cakupan ASI eksklusif berfluktuasi dari 76,67% (2020) menjadi 73,9% (2023). Rendahnya cakupan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti informasi perilaku kesehatan, pemberdayaan personal, keterampilan menyusui, dukungan sosial, efikasi diri, niat, serta budaya lokal masyarakat Sunda yang dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat perilaku pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan, mengembangkan, dan menguji Model Promosi Kesehatan, Pemberdayaan Keluarga dan Budaya Lokal pada Perilaku Pemberian ASI Eksklusif di Kabupaten Kuningan melalui integrasi, Teori Dukungan Sosial, Theory of Planned Behavior (TPB), Teori Pemberdayaan dan Information Motivation Behavioral Skills Model (IMB) pemberdayaan keluarga, dukungan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan budaya lokal. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan model empiris yang mengintegrasikan determinan individual, interpersonal, komunitas, dan budaya lokal dalam satu model promosi kesehatan, pemberdayaan keluarga dan budaya lokal yang divalidasi secara teoritis dan empiris melalui pendekatan mixed methods.Penelitian menggunakan mixed methods dengan desain Sequential Explanatory yang dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 200 ibu yang memiliki bayi usia 6–12 bulan di Kabupaten Kuningan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menganalisis hubungan langsung dan tidak langsung antarvariabel. Tahap kedua merupakan penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 11 informan utama yang terdiri atas ibu menyusui, suami ibu menyusui, orang tua ibu menyusui, bidan desa dan tokoh budaya sunda guna mengeksplorasi faktor-faktor budaya lokal dan pemberdayaan keluarga yang memengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif. Tahap ketiga merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain one-group pretest–posttest terhadap 30 ibu menyusui untuk menguji efektivitas model promosi kesehatan, pemberdayaan keluarga dan budaya lokal yang dikembangkan dalam meningkatkan pengetahuan budaya lokal, sikap, efikasi diri, motivasi, dan niat pemberian ASI eksklusif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemberian ASI eksklusif dipengaruhi secara langsung oleh informasi perilaku kesehatan, proses pemberdayaan personal, budaya lokal, keterampilan teknik menyusui, pemberdayaan masyarakat, dukungan sosial, efikasi diri, dan niat. Analisis SEM menunjukkan bahwa niat merupakan determinan utama yang memediasi pengaruh budaya lokal, sikap, norma subjektif, motivasi, dan efikasi diri terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif. Hasil penelitian kualitatif mengidentifikasi bahwa budaya lokal Sunda memiliki dua dimensi utama. Budaya yang mendukung meliputi nilai kekeluargaan, gotong royong (silih asah, silih asih, dan silih asuh), dukungan keluarga, serta nilai religius yang memperkuat komitmen ibu dalam menyusui. Sebaliknya, budaya yang menghambat meliputi mitos tentang kecukupan ASI, pantangan makanan, pemberian makanan atau minuman sebelum usia enam bulan, serta praktik tradisional yang tidak sesuai dengan prinsip ASI eksklusif.Sintesis hasil kuantitatif dan kualitatif menghasilkan Model Promosi Kesehatan, Pemberdayaan Keluarga dan Budaya Lokal yang mengintegrasikan pendekatan promosi kesehatan pada level personal, interpersonal, dan komunitas. Model tersebut kemudian diuji melalui penelitian eksperimen dan menunjukkan peningkatan yang bermakna pada pengetahuan budaya lokal, sikap, efikasi diri, motivasi, dan niat setelah intervensi (p < 0,05), sehingga terbukti efektif dalam meningkatkan determinan perilaku pemberian ASI eksklusif.Hasil penelitian eksperimen menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi pada variabel pengetahuan budaya lokal, sikap, efikasi diri, dan motivasi dalam pemberian ASI eksklusif. Temuan ini membuktikan bahwa model promosi kesehatan, pemberdayaan keluarga dan budaya lokal efektif dalam meningkatkan faktor-faktor determinan perilaku pemberian ASI eksklusif. Integrasi nilai budaya lokal ke dalam strategi promosi kesehatan mampu meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pesan kesehatan sekaligus memperkuat keberlanjutan perubahan perilaku. Model Promosi Kesehatan, Pemberdayaan Keluarga dan Budaya Lokal terbukti valid dan efektif meningkatkan determinan perilaku pemberian ASI eksklusif melalui integrasi faktor individual, interpersonal, komunitas, dan budaya lokal. Budaya lokal Sunda berperan sebagai faktor kontekstual yang memengaruhi sikap, norma subjektif, efikasi diri, motivasi, niat, dan perilaku pemberian ASI eksklusif, sehingga model ini berpotensi direplikasi pada masyarakat dengan karakteristik budaya serupa. Penelitian ini merekomendasikan agar model promosi kesehatan, pemberdayaan keluarga dan budaya lokal diintegrasikan ke dalam kebijakan kesehatan ibu dan anak oleh pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan. Implementasi model perlu melibatkan tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta keluarga melalui penguatan nilai-nilai budaya lokal yang mendukung perilaku menyusui dan eliminasi praktik budaya yang tidak sesuai dengan bukti ilmiah. Selain itu, model ini perlu diuji lebih lanjut pada populasi dengan karakteristik sosial budaya yang berbeda untuk memperkuat validitas eksternal dan mendukung penyusunan pedoman promosi kesehatan, pemberdayaan keluarga dan budaya lokal di Indonesia.