Abstrak
DESAIN HRS-WC DENGAN BAHAN PENGIKAT ASPAL YANG DIMODIFIKASI MENGGUNAKAN MINYAK SAWIT MENTAH (CRUDE PALM OIL)
Oleh :
Thomas Revano Tambunan - I0122192 - Fak. Teknik
Perkerasan lentur umumnya menggunakan aspal berbasis minyak bumi sebagai
bahan pengikat, sehingga diperlukan pengembangan bahan modifikasi yang berasal
dari sumber daya terbarukan. Salah satu bahan yang berpotensi digunakan adalah
Crude Palm Oil (CPO) yang tersedia melimpah di Indonesia. Penelitian ini
bertujuan menganalisis penggunaan CPO 4% sebagai bahan modifikasi aspal
penetrasi 60/70 terhadap karakteristik campuran Hot Rolled Sheet-Wearing Course
(HRS-WC), serta mengevaluasi konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca
menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Penelitian dilakukan
secara eksperimental di laboratorium dengan variasi kadar aspal 6,0%, 6,5%, 7,0%,
7,5%, dan 8,0%. Pengujian Marshall meliputi stabilitas, flow, Marshall Quotient
(MQ), berat isi bulk, VIM, VMA, dan VFB. Analisis LCA menggunakan batas
sistem cradle-to-laboratory gate yang mencakup pengadaan material, transportasi
material, serta kegiatan laboratorium.
Hasil penelitian menunjukkan kadar aspal optimum campuran HRS-WC
konvensional sebesar 7,11% dan campuran HRS-WC modifikasi CPO 4% sebesar
7,31%. Pada kondisi tersebut, campuran CPO 4% menghasilkan stabilitas 789,06
kg, flow 2,71 mm, MQ 288,19 kg/mm, VIM 7,38%, VMA 19,992%, dan VFB
65,00%. Campuran CPO 4% memenuhi persyaratan stabilitas, flow, MQ, dan
VMA, tetapi belum memenuhi VIM dan VFB. Hasil analisis LCA menunjukkan
bahwa campuran HRS-WC konvensional memiliki konsumsi energi sebesar 37,53
MJ/kg campuran dan emisi gas rumah kaca sebesar 6,045 kg CO₂-eq/kg campuran,
sedangkan campuran HRS-WC modifikasi CPO 4% memiliki konsumsi energi
sebesar 39,87 MJ/kg campuran dan emisi gas rumah kaca sebesar 6,598 kg CO₂
eq/kg campuran. Dengan demikian, pada batas sistem cradle-to-laboratory gate,
campuran HRS-WC modifikasi CPO 4% menghasilkan konsumsi energi dan emisi
gas rumah kaca yang lebih tinggi dibandingkan campuran konvensional. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa penggunaan CPO 4% masih memerlukan optimasi
komposisi dan proses agar dapat memenuhi seluruh persyaratan teknis serta
meningkatkan efisiensi energi dan emisi pada kondisi penelitian skala laboratorium.