Abstrak


FILOGEOGRAFI, GENETIKA POPULASI, DAN KONSERVASI OWA JAWA (Hylobates moloch) DI PEGUNUNGAN DIENG


Oleh :
Adifa Risa Bagasta - T772308001 - Fak. MIPA

Owa Jawa merupakan primata arboreal yang tercancam punah dan hidup di hutan Pegunungan Dieng yang bukan kawasan konservasi yang terus terdegradasi sehingga memiliki kerentanan mengenai kebugaran populasi dan kualitas genetiknya. Penelitian ini bertujuan mengungkap konektivitas genetik dan struktur populasi Owa Jawa di Pegunungan Dieng serta menilai implikasinya terhadap ketegaran populasi dan strategi konservasi jangka panjang. Metode yang digunakan yaitu eksplorasi dengan mengkoleksi 18 feses Owa Jawa yang mewakili 4 kelompk besar di Pegunungan Dieng. Amplifikasi cytochrome b (cytb) panjang 1141 bp dilakukan dengan primer yang di desain secara mandiri dibagi dalam tiga region primer (T1, T2, T3) Analisis menghasilkan 8 keompok haplotipe dengan keragaman haplotipe tinggi (Hd = 0,8301) namun keragaman nukleotida sedang (π = 0,00531), yang berarti perbedaan antar sekuens terjadi tetapi tingkat perbedaannya kecil. Nilai Tajima’s D negatif (–0,52104) mencerminkan populasi yang tidak mengalami penyempitan ekstrem dan dapat menggambarkan kondisi stabil atau ekspansi lemah. Analisis diferensiasi genetik menunjukkan nilai Fst global sebesar 0,45117 dengan nilai aliran gen (Nm) sebesar 0,30 yang mengindikasikan adanya diferensiasi genetik cukup kuat disertai keterbatasan aliran gen antar populasi. Filogeografi dan jaringan haplotipe mengidentifikasi kelompok Salakan sebagai unit yang tidak berbagi haplotipe dengan kelompok terdekat meski hanya berjarak ±2 km, mengindikasikan hambatan aliran gen pada skala ruang kecil. Konektivitas genetik merupakan salah satu pilar ketegaran populasi. Populasi dengan aliran gen terbatas lebih rentan terhadap genetik drift, kehilangan variasi adaptif, dan penurunan kemampuan menghadapi perubahan lingkungan. Analisis Forest Canopy Density (FCD) mengungkap penurunan 18,7% tutupan kanopi rapat di hutan Pegunungan Dieng antara 2013–2025. Hilangnya struktur kanopi berpotensi mengurangi konektivitas habitat, sebuah faktor kunci bagi spesies arboreal seperti Owa Jawa yang mengandalkan jalur kanopi bersambung untuk pergerakan, dispersal, dan pertukaran gen. Integrasi data genetik dan struktur habitat menunjukkan bahwa fragmentasi hutan dapat mengganggu proses ekologis yang mempertahankan ketegaran populasi, termasuk sebaran antar-kelompok dan pemeliharaan variasi genetik adaptif. Hasil penelitian menegaskan perlunya strategi konservasi yang tidak hanya berfokus pada perlindungan habitat, tetapi secara eksplisit memperkuat konektivitas ekologis dan genetik sebagai dasar ketahanan jangka panjang Owa Jawa terhadap perubahan lingkungan dan tekanan antropogenik. Upaya restorasi koridor kanopi dan pengelolaan lanskap berbasis konektivitas menjadi prioritas untuk memastikan kapasitas adaptasi populasi tetap terjaga di masa mendatang