Abstrak


Hubungan Umur Tegakan Pinus Terhadap Kemantapan Agregat Tanah Pada Habitat Rayap Microtermes Dengan Curah Hujan Yang Berbeda di KHDTK Gunung Bromo


Oleh :
Roofiif Za'im - H0222112 - Fak. Pertanian

HUBUNGAN UMUR TEGAKAN PINUS TERHADAP KEMANTAPAN AGREGAT TANAH PADA HABITAT RAYAP MICROTERMES DENGAN CURAH HUJAN YANG BERBEDA DI KHDTK GUNUNG BROMO. Skripsi: Roofiif Za'im (H0222112).  Pembimbing: Komariah, S.T.P., M.Sc., Ph.D.,  Dr. Khoirul Himmi Setiawan, M.Agr. Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Rayap Microtermes dikenal sebagai rayap tanah yang aktif membangun terowongan dan sarang di dalam tanah. Tegakan pinus (Pinus merkusii) merupakan tegakan yang memiliki jumlah seresah tinggi yang dimana umur tegakannya akan berperan dalam membentuk kondisi fisik tanah. Interaksi antara umur tegakan pinus, curah hujan, dan keberadaan rayap Microtermes menjadi dasar yang penting dalam memahami perubahan kemantapan agregat tanah yang ada pada ekosistem hutan pinus di KHDTK Gunung Bromo. Penelitian ini dilaksanakan di KHDTK Gunung Bromo, Karanganyar, Jawa Tengah. Metode penelitian ini dilakukan dengan deskriptif eksploratif dengan metode pengambilan sampel menggunakan metode transek sepanjang 100 meter serta didukung hasil analisis laboratorium. Pengambilan sampel dilaksanakan dibawah tegakan pinus di tahun tanam 1996 dan 2003 pada dua kondisi perbedaan curah hujan yang berbeda pada bulan April hingga September 2025. Variabel utama yang diamati adalah kelimpahan populasi rayap Microtermes dan kemantapan agregat tanah dan variabel pendukung diantaranya porositas tanah berdasarkan bobot volume dan bobot jenis, tekstur tanah, kadar lengas, dan water holding capacity (WHC). Analisis lanjutan dari hasil laboratorium dilakukan uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney U, Regresi, serta korelasi. Hasil analisis menunjukan pada pinus tahun tanam 1996 memiliki populasi rayap Microtermes lebih tinggi dibandingkan tahun tanam 2003. Uji Mann-Whitney U menunjukkan bahwa hubungan rayap terhadap kemantapan agregat tergolong lemah, sehingga faktor lain seperti tekstur tanah, porositas tanah, dan kelembapan tanah lebih berpengaruh terhadap pembentukan agregat tanah.