Abstrak


Representasi Gunung Kemukus Dalam Konten Tiktok Oleh Konten Kreator


Oleh :
Fathurohmah Putri Dzikriyah - K8422031 - Fak. KIP

Fathurohmah Putri Dzikriyah. K8422031. Pembimbing: Dr. Siany Indria Liestyasari, S.Ant., M.Hum. REPRESENTASI GUNUNG KEMUKUS DALAM KONTEN TIKTOK OLEH KONTEN KREATOR. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2026.             Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi Gunung Kemukus dalam ‎konten media sosial Tiktok yang diproduksi oleh konten kreator dan memahami penafsiran ‎audiens terhadap representasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif ‎deskriptif dengan teori representasi Stuart Hall sebagai landasan analisis. Data penelitian ‎diperoleh melalui observasi konten Tiktok, dokumentasi, wawancara dengan konten kreator ‎dan audiens, serta analisis komentar pengguna media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi Gunung Kemukus di Tiktok ‎terbagi ke dalam tiga bentuk utama, yaitu sebagai wisata religi, budaya, dan sejarah melalui penonjolan makam pangeran samudera, tradisi larap slambu, serta nilai sejarah dan budaya lokal. Kedua, Gunung Kemukus direpresentasikan sebagai tempat wisata keluarga melalui konten yang menampilkan revitalisasi kawasan fasilitas wisata, serta berbagai aktivitas rekreasi. Ketiga, Gunung Kemukus direpresentasikan sebagai tempat ritual pesugihan dengan penekanan pada narasi mistis, mitos ritual seks, dan unsur-unsur sensasional yang cenderung memperkuat stigma negatif. Representasi tersebut ‎dibangun melalui penggunaan visual, caption, narasi, musik, dan simbol tertentu dalam ‎proses encoding oleh konten kreator. Konten yang menampilkan sisi religi dan budaya ‎umumnya menonjolkan makam Pangeran Samudera, tradisi Larap Slambu, dan revitalisasi ‎kawasan wisata, sedangkan konten yang menampilkan stigma negatif lebih banyak ‎menggunakan unsur mistis, sensasional, dan narasi ritual pesugihan untuk menarik perhatian ‎audiens. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa audiens memiliki penafsiran yang ‎beragam terhadap representasi tersebut, yaitu dominant hegemonic reading, yaitu audiens menerima representasi yang ditampilkan dalam konten sebagai gambaran nyata mengenai Gunung Kemukus. Negotiated ‎reading yaitu audiens menerima sebagian representasi, namun menyesuaikannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Sementara itu, oppositional reading yaitu audiens menolak representasi yang berfokus pada stigma negatif. Penelitian ini ‎menunjukkan bahwa media sosial memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekedar menyebarkan informasi, yaitu sebagai wadah produksi dan reproduksi makna, stereotip, serta identitas budaya yang berlangsung secara berkelanjutan dalam lingkungan digital.