Abstrak


Analisis Perbandingan Performa Infrastruktur Kvm Dan Lxc Pada Platform Moodle Berbasis Quality Of Service (Qos) Di Perguruan Tinggi


Oleh :
Bobby Dwi Arvianto Putra - K3522014 - Fak. KIP

Transformasi digital di sektor pendidikan tinggi terus berlangsung secara berkelanjutan dan telah menjadi kebutuhan permanen, menjadikan Learning Management System (LMS) seperti Moodle sebagai infrastruktur kritikal pembelajaran yang dituntut mampu melayani beban akses tinggi secara stabil. Di sisi lain, institusi pendidikan dihadapkan pada keterbatasan anggaran teknologi informasi, sehingga pemilihan teknologi virtualisasi pada server host yang efisien namun tetap mampu menjaga kualitas layanan memegang peranan penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan performa infrastruktur berbasis Kernel-based Virtual Machine (KVM) sebagai representasi Full Virtualization dan Linux Containers (LXC) sebagai representasi OS-level Virtualization pada platform Proxmox VE yang menjalankan Moodle LMS.Penelitian ini menerapkan metode eksperimen komparatif dengan menguji tiga skenario beban akademik realistik: ujian simultan (simultaneous exam), kuis interaktif (interactive quiz), dan pengunduhan materi (material download). Pengujian dilakukan secara bertahap menggunakan beban 10 VU, 50 VU, dan 100 VU pada dua kondisi jaringan, yaitu jaringan lokal kampus dan jaringan publik berbasis Tailscale VPN. Parameter evaluasi dibagi menjadi tiga dimensi utama: Quality of Service (QoS) jaringan (mengacu standar ETSI TIPHON), utilitas sumber daya (CPU, RAM, Disk I/O), serta reliabilitas aplikasi (Time To First Byte (TTFB), success rate, dan error rate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa KVM secara umum unggul pada dimensi QoS dan reliabilitas aplikasi, dengan throughput rata-rata 4,77 Mbps, jitter 3,77 ms, dan packet loss 0,49% yang seluruhnya termasuk kategori Sangat Baik menurut ETSI TIPHON, serta TTFB rata-rata 463,88 ms. Sebaliknya, LXC menunjukkan keunggulan konsisten pada efisiensi penggunaan sumber daya, khususnya konsumsi RAM yang rata-rata 16 poin persentase lebih rendah (12,62% berbanding 28,76% pada KVM), meskipun efisiensi ini tidak diikuti oleh keunggulan yang setara pada reliabilitas layanan. Pada skenario pengunduhan materi dengan beban tinggi di jaringan publik, LXC justru mencatatkan delay yang jauh lebih rendah (1.434 ms–1.721 ms) dibandingkan KVM (7.988 ms–11.226 ms), menunjukkan bahwa keunggulan antar-infrastruktur bersifat kontekstual dan tidak seragam pada seluruh skenario. Pada skenario kuis interaktif multi-halaman, performa jaringan kedua arsitektur kompetitif, dengan LXC mencatat throughput sedikit lebih tinggi (7,274 Mbps) dibandingkan KVM (7,247 Mbps). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat satu infrastruktur yang unggul mutlak: KVM lebih sesuai bagi institusi yang memprioritaskan stabilitas dan kualitas layanan, sedangkan LXC lebih sesuai bagi institusi dengan keterbatasan sumber daya perangkat keras yang memprioritaskan efisiensi memori. Pemilihan infrastruktur yang tepat perlu disesuaikan dengan prioritas dan kondisi masing-masing institusi pendidikan.