Abstrak
ANALISIS KOMPARATIF KEMATANGAN KEAMANAN INFORMASI BERDASARKAN ISO 27001:2022 MENGGUNAKAN HIERARCHICAL CLUSTERING (STUDI KASUS: SMAN 3 SUKOHARJO DAN SMKN 1 SUKOHARJO)
Oleh :
Nisa Fitri Mawsali - K3522057 - Fak. KIP
Nisa Fitri Mawsali. K3522057. Pembimbing I: Puspanda Hatta, S. Kom., M.Eng.
ANALISIS KOMPARATIF KEMATANGAN KEAMANAN INFORMASI BERDASARKAN ISO 27001:2022
MENGGUNAKAN HIERARCHICAL CLUSTERING (STUDI KASUS: SMAN 3 SUKOHARJO DAN SMKN 1
SUKOHARJO). Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret. Surakarta, Juni 2026.
Ancaman siber
yang semakin meningkat terhadap institusi pendidikan menjadikan kematangan
keamanan informasi sebagai kebutuhan yang penting untuk menjamin kerahasiaan,
integritas, dan ketersediaan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk
memetakan profil kematangan serta klaster kepatuhan keamanan informasi
berdasarkan ISO 27001:2022 menggunakan algoritma Hierarchical Clustering, serta
menguji perbedaan tingkat kematangan antara SMAN 3 Sukoharjo dan SMKN 1
Sukoharjo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan
desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup berskala
dikotomi yang diturunkan dari domain Manajemen Risiko dan Akses Kontrol ISO
27001:2022. Sebanyak 36 responden valid yang terdiri atas staf IT dan staf tata
usaha dari kedua sekolah dipilih menggunakan teknik Total Sampling. Analisis
data meliputi pemetaan CMMI Maturity Level, Agglomerative Hierarchical
Clustering metode Ward dengan jarak Euclidean, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan
uji Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden
berada pada Level 5 CMMI (Optimizing), dengan rata-rata skor kematangan sebesar
90,56% pada SMAN 3 Sukoharjo dan 90,34% pada SMKN 1 Sukoharjo. Analisis
clustering menghasilkan tiga klaster utama yang mencerminkan variasi profil
kepatuhan berdasarkan peran dan tingkat keterlibatan individu. Uji Mann-Whitney
U menghasilkan p-value
0,46620 dan effect size r = 0,0141, menunjukkan tidak terdapat perbedaan
signifikan antara kedua sekolah. Temuan ini mengindikasikan bahwa profil
jabatan dan keterlibatan individu lebih berpengaruh terhadap kematangan
keamanan informasi dibandingkan jenis kelembagaan sekolah.