Abstrak
Koordinasi Makna antara Wartawan dan Ilmuwan
Oleh :
Imam Saputro - S262408006 - Fak. ISIP
Penelitian ini membahas proses koordinasi makna antara wartawan dan ilmuwan dalam produksi artikel berbasis riset di portal 360info.org. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya komunikasi sains yang tidak hanya menyampaikan hasil penelitian kepada publik, tetapi juga menerjemahkan pengetahuan akademik ke dalam bentuk yang akurat, relevan, dan mudah dipahami. Penelitian ini tidak menilai dampak artikel terhadap pembaca, melainkan menelaah bagaimana makna ilmiah dibentuk, dikoordinasikan, dan ditransformasikan pada tahap produksi, mulai dari brief editorial hingga artikel siap terbit. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data penelitian terdiri atas lima transkrip brief editorial antara wartawan dan ilmuwan, empat artikel mentah yang ditulis ilmuwan beserta empat artikel tayang di 360info.org, wawancara dengan Senior Commissioning Editor 360info.org Indonesia sebagai informan kunci institusional. Wawancara lanjutan dilakukan dengan Hari Setyowibowo sebagai kasus brief yang tidak berlanjut menjadi artikel, dan Tommy Hendra Purwaka sebagai kasus artikel yang mengalami perubahan editorial paling drastis. Analisis dilakukan menggunakan teori Coordinated Management of Meaning (CMM). Temuan penelitian menunjukkan brief berfungsi sebagai arena koordinasi makna: wartawan membawa isu aktual, kebutuhan editorial, dan kemungkinan angle, sedangkan ilmuwan membawa kepakaran, data, serta batas klaim ilmiah. Wartawan berperan sebagai mediator epistemik yang menerjemahkan pengetahuan akademik ke dalam struktur jurnalistik, sementara ilmuwan berperan sebagai public intellectual yang menjaga akurasi dan relevansi keilmuan. Pada empat kasus yang berujung artikel terbit, koreksi ilmiah dari narasumber secara konsisten disertai pengganti naratif yang siap dipakai, sehingga koherensi percakapan berlanjut menjadi koordinasi produksi. Kasus Hari Setyowibowo menunjukkan pola berbeda, hierarki makna brief tercapai kesepahaman tematik, namun tidak berlanjut menjadi artikel. Penelusuran lebih jauh menunjukkan locus kegagalannya bukan pada pemahaman, melainkan pada komitmen partisipasi. Sebaliknya, kasus Tommy Hendra Purwaka menunjukkan bahwa perubahan editorial yang besar tidak selalu berarti distorsi, melainkan dapat menjadi restrukturisasi makna yang tetap berada dalam batas substansi ilmiah dan norma integritas akademik yang disepakati kedua pihak. Penelitian ini menyimpulkan produksi artikel berbasis riset di 360info.org merupakan proses ko-produksi makna antara logika akademik dan logika jurnalistik, yang keberhasilannya bergantung tidak hanya pada tercapainya kesepahaman dalam brief, tetapi juga pada komitmen dan kesesuaian antara peran profesional narasumber dan format produksi media. Secara teoretis, penelitian ini memperluas penggunaan CMM ke kajian produksi artikel berbasis riset, menawarkan konsep wartawan sebagai mediator epistemik dan seleksi ilmuwan sebagai gatekeeping epistemik, serta menunjukkan bahwa pembedaan koherensi dan koordinasi dalam CMM beroperasi pada dua level berbeda koordinasi mikro-percakapan dan koordinasi makro-proyek yang dapat terpisah sebagaimana ditemukan pada kasus negatif penelitian ini. Penelitian ini terbatas pada satu organisasi media dan satu informan kunci institusional, sehingga temuan mengenai kebijakan editorial 360info.org perlu dibaca sebagai kajian mendalam satu kasus, bukan generalisasi lintas-media.