Abstrak
Modal Sosial Asosiasi Swastika UMKM Swastika Makmur Desa Pereng dalam Menghadapi Risiko Keberlangsungan Usaha di Wilayah Rawan Bencana
Oleh :
Latifah Khusnul Qotimah - K8422045 - Fak. KIP
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ikatan sosial bonding dan bridging yang
dibangun oleh Asosiasi UMKM Swastika Makmur dalam menghadapi risiko
keberlangsungan usaha di wilayah rawan bencana. Modal sosial yang telah dimiliki oleh
Asosiasi Swastika Makmur nantinya digunakan dalam menghadapi risiko bencana. Melalui
metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, teknik pengumpulan data dilakukan
melalui wawancara semiterstruktur, observasi partisipan, dan dokumen. Proses wawancara
melibatkan koordinator, pengurus, dan anggota Asosiasi Swastika Makmur. Observasi
dilakukan melalui pengamatan anggota dan kegiatan gotong royong yang dilaksanakan di
Desa Pereng. Dokumentasi dilakukan melalui salinan kepengurusan Asosiasi Swastika
makmur dan kegiatan di dalam asosiasi. Penentuan informan menggunakan teknik
purposive sampling. Proses pengujian data menggunakan triangulasi teknik dan sumber.
Proses analisis data menggunakan model yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman
melalui tahap kondensasi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian
menunjukan, modal sosial bonding yang dimiliki asosiasi kuat karena dibentuk melalui
interaksi yang rutin dan produktif yang menghasilkan kepercayaan, norma resiprositas
umum, dan jaringan internal. Selain itu, modal sosial bridging yang dibangun asosiasi
secara kolektif dengan LSM Jalatera, PLKB, BKKBN, Puskesmas Prambanan, dan UNY
menghasilkan keuntungan bagi asosiasi seperti pelatihan digitalisasi, kas asosiasi dan
diversifikasi pasar. Modal sosial bridging juga dibangun oleh anggota secara mandiri
melalui tour guide, Dekranasda, Klasis, dan Komunitas UMKM. Modal sosial yang
dimiliki Asosiasi Swastika Makmur dapat menjadi fondasi bagi para anggota dalam
menghadapi bencana. Alasannya karena jaringan yang mengikat kuat di antara anggota dan
kerja sama yang menjembatani bermanfaat saat keadaan krisis. Namun, modal sosial yang
dimiliki asosiasi juga menjadi beban bagi anggota karena perbedaan pandangan antar
pelaku usaha dan rasa kurang diperhatikan bagi pelaku usaha yang jenis usahanya
minoritas