;

Abstrak


Determinan Diabetes Melitus Tipe 2 pada Orang Dewasa di Wilayah Perkotaan dan Pedesaan Kabupaten Sragen


Oleh :
Novia Erliana Wandansari - S022502037 - Fak. Kedokteran

Novia Erliana Wandansari. S022502037. Determinan Diabetes Melitus Tipe 2 pada Orang Dewasa di Wilayah Perkotaan dan Pedesaan Kabupaten Sragen. Tesis. Pembimbing I: Ika Sumiyarsi Sukamto Pembimbing II: Setyo Sri Rahardjo Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Diduga terdapat perbedaan karakteristik penderita  diabetes melitus tipe 2 antara masyarakat perkotaan dan pedesaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan karakteristik penderita diabetes melitus tipe 2 pada orang dewasa di wilayah perkotaan dan pedesaan Kabupaten Sragen serta mengidentifikasi variabel yang paling dominan membedakan antara wilayah perkotaan dan pedesaan Kabupaten Sragen .Subjek dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di enam puskesmas di Kabupaten Sragen yang mewakili wilayah perkotaan dan pedesaan. Subjek penelitian adalah penderita diabetes melitus tipe 2 usia dewasa yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, dan aktivitas fisik. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan data rekam medis. Analisis bivariat menggunakan uji chi-Square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik.Hasil: Terdapat perbedaan usia (p=0,035) antara penderita DM tipe 2 dewasa di perkotaan dan pedesaan dimana penderita DM tipe 2 usia dewasa tua lebih banyak ditemukan di perkotaan, terdapat perbedaan pendidikan (p=0,007) antara penderita DM tipe 2 dewasa di perkotaan dan pedesaan dimana penderita DM tipe 2 dengan tingkat pendidikan lebih tinggi (> SMA) lebih banyak ditemukan di perkotaan, terdapat perbedaan pendapatan (p=0,011) antara penderita DM tipe 2 dewasa di perkotaan dan pedesaan dimana penderita DM tipe 2 dengan pendapatan ≥ UMR lebih banyak ditemukan di perkotaan, terdapat perbedaan pekerjaan (p=0,016) antara penderita DM tipe 2 dewasa di perkotaan dan pedesaan dimana penderita DM tipe 2 dengan status bekerja lebih banyak ditemukan di perkotaan, dan terdapat perbedaan aktivitas fisik (p=0,005) antara penderita DM tipe 2 dewasa di perkotaan dan pedesaan dimana penderita DM tipe 2 dengan aktivitas fisik rendah lebih banyak ditemukan di perkotaan, tidak terdapat perbedaan jenis kelamin (p=0,078) antara penderita DM tipe 2 dewasa di perkotaan dan pedesaan. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa aktivitas fisik merupakan faktor yang paling dominan membedakan karakteristik penderita diabetes melitus tipe 2 antara wilayah perkotaan dan pedesaan (OR=2,326; p=0,007) dimana penderita dengan aktivitas fisik rendah memiliki kemungkinan 2,326 kali lebih besar berada di wilayah perkotaan dibandingkan penderita dengan aktivitas fisik sedang/tinggi.Kesimpulan: Terdapat perbedaan karakteristik penderita diabetes melitus tipe 2 antara wilayah perkotaan dan pedesaan Kabupaten Sragen berdasarkan usia, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, dan aktivitas fisik. Aktivitas fisik merupakan variabel yang paling dominan membedakan karakteristik penderita diabetes melitus tipe 2 antara kedua wilayah. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan program pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe 2 yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat di wilayah perkotaan dan pedesaan.