Abstrak
Perancangan Film Animasi Adaptasi Cerita Rakyat “Haman Pardidu” Dalam Mengenalkan Sosial Emosional Praremaja di Maluku
Oleh :
Persis Gohana Tambunan - C0722114 - Fak. Seni Rupa dan Desain
Kemampuan anak-anak di Indonesia dalam mengekspresikan perasaan masih menjadi tantangan hingga saat ini. Dikarenakan budaya malu yang dianut oleh masyarakat sejalan dengan kultur kolektivistik masyarakat timur mendorong anak menahan ekspresi emosi demi menjaga keharmonisan sosial. Kondisi ini semakin nyata terjadi di Maluku, di mana rendahnya pemahaman emosional berdampak pada meningkatnya konflik antarpribadi hingga kasus yang lebih serius. Pemahaman emosi menjadi aspek krusial, khususnya pada praremaja usia 12–15 tahun, sebab fase ini ditandai oleh transformasi besar menuju kedewasaan dan ketidakstabilan emosi. Untuk memutus siklus antara minimnya literasi emosi dan dampak sosial yang ditimbulkannya, penelitian ini bertujuan merancang film animasi pendek dua dimensi sebagai media pengenalan konsep emosi dasar bagi praremaja Maluku berbasis budaya lokal. Penelitian ini mengadopsi metode 3P , Pra Produksi, Produksi, dan Pasca Produksi, dengan melibatkan studi literatur dan observasi lapangan. Temuan menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal mampu menyampaikan konsep emosi dasar secara lebih kontekstual dan mudah diterima audiens target. Hasilnya adalah film animasi pendek dua dimensi yang mengadaptasi cerita rakyat Maluku "Haman Pardidu" dengan bahasa melayu Ambon sebagai bahasa pengantar, sekaligus menghidupkan kembali warisan budaya yang kian terlupakan. Berdasarkan pengujian, responden menyatakan film ini efektif mengenalkan konsep emosi dasar sesuai konteks budaya lokal Maluku.