Abstrak
INSTAGRAM SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI KESEHATAN DIGITAL
(Studi Kualitatif Pola Komunikasi Persuasif, Konstruksi Pesan Kesehatan, dan Interaksi Dialogis dalam Upaya Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Reservoir di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan Salatiga)
Oleh :
Suraji Heri Prasetiyo - S262408035 - Fak. ISIP
Suraji Heri Prasetiyo. S262408035. 2026. Instagram Sebagai
Media Komunikasi Kesehatan Digital (Studi
Kualitatif Pola Komunikasi Persuasif, Konstruksi Pesan Kesehatan, dan Interaksi
Dialogis dalam Upaya Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Reservoir di Balai
Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan Salatiga). Tesis. Pembimbing I: Prof.
Drs. Pawito, Ph.D. Pembimbing II: Dr. Likha Sari Anggreni, S.Sos., M.Soc.Sc.
Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,
Universitas Sebelas Maret. Perkembangan media sosial telah mentransformasi
komunikasi kesehatan menjadi lebih cepat, luas, dan interaktif. Balai Besar
Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BBLKL) Salatiga memanfaatkan Instagram
sebagai media penyebaran informasi pencegahan penyakit tular vektor dan
reservoir, namun tingkat keterlibatan (engagement) audiens masih rendah.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola komunikasi persuasif,
menganalisis konstruksi pesan kesehatan, serta mengkaji penerapan
prinsip-prinsip Dialogic Communication dalam membangun interaksi
dialogis melalui Instagram. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa komunikasi kesehatan digital BBLKL didominasi pola
informatif-edukatif yang berorientasi preventif dan promotif, tetapi masih
cenderung satu arah. Berdasarkan Dialogic Communication Theory, akun
Instagram telah memenuhi prinsip Usefulness of Information, Ease
of Interface, dan Generation of Return Visits, namun belum
optimal pada Dialogic Loop dan Conservation of Visitors,
sehingga komunikasi yang terbentuk masih bersifat semi-dialogis. Analisis HBM
menunjukkan pesan telah membangun perceived susceptibility, severity,
benefits, cues to action, dan self-efficacy, tetapi
aspek perceived barriers belum berkembang optimal. Analisis ELM
menunjukkan pesan lebih banyak memanfaatkan central route melalui
informasi yang kredibel dan berbasis bukti, sedangkan peripheral route
melalui pendekatan emosional masih terbatas. Rendahnya engagement
dipengaruhi oleh dominasi komunikasi formal, rendahnya interaktivitas,
keterbatasan kelembagaan, serta persepsi audiens yang memandang akun sebagai
media informasi resmi.Kebaruan penelitian ini terletak pada temuan bahwa
kualitas informasi kesehatan yang tinggi, kredibilitas institusi, serta
meningkatnya pengetahuan masyarakat tidak secara otomatis menghasilkan
keterlibatan audiens yang tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas
komunikasi kesehatan digital pada institusi pemerintah ditentukan oleh
kemampuan mengintegrasikan kualitas informasi, strategi persuasi, dan
komunikasi dialogis secara simultan sehingga media sosial tidak hanya berfungsi
sebagai sarana edukasi kesehatan, tetapi juga sebagai ruang partisipasi publik
yang mampu membangun hubungan komunikasi berkelanjutan dan mendorong perubahan
perilaku kesehatan masyarakat.