Abstrak


Horizon Harapan Kritikus Sastra Terhadap Novel Stasiun (1977) Karya Putu Wijaya pada Majalah Horison di Era Orde Baru


Oleh :
Dyah Ayu Larasati - B0222026 - Fak. Ilmu Budaya

Karya sastra selalu menawarkan pandangan yang berbeda kepada setiap pembaca di setiap periode. Setiap pembaca memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berbeda-beda dan dapat terus berkembang, sehingga mempengaruhi prinsip estetika sastranya. Perbedaan prinsip ini menghasilkan keberagaman horizon harapan dalam mengapresiasi karya sastra. Majalah Horison merupakan majalah sastra yang aktif mempublikasi karya serta esai-esai sastra sejak penerbitannya pada masa Orde Baru. Esai-esai kritik sastra menjadi wujud dari resepsi para pembaca. Resepsi para kritikus ini berdialog dengan resepsi lainnya yang diterbitkan di majalah tersebut. Novel Stasiun (1977) karya Putu Wijaya menjadi penanda karya sastra Angkatan 70 yang menjadi topik pembicaraan bagi para kritikus sastra, karena kebaruan tema dan gaya penulisannya. Berdasarkan latar belakang tersebut masalah dibatasi mengenai horizon harapan pembaca novel Stasiun (1977) yang ada di majalah Horison pada era Orde Baru. Masalah tersebut akan mengarah pada simpulan mengenai tanggapan-tanggapan para kritikus, latar belakang pemikiran para kritikus, serta horizon harapan yang dimiliki. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan dasar teori resepsi sastra Hans Robert Jauss. Teori ini mengutamakan aspek kesejarahan, yakni penerimaan karya sastra oleh pembaca dari waktu ke waktu. Teori tersebut diterapkan pada penelitian ini untuk mendeskripsikan resepsi sastra terhadap suatu karya sastra pada satu kurun waktu tertentu. Objek dari penelitian ini adalah horizon harapan pembaca novel Stasiun (1977) karya Putu Wijaya pada majalah Horison di era Orde Baru. Data merupakan teks resepsi pembaca sebagai data primer dan teks latar belakang pemikiran pembaca sebagai data penunjang. Data-data tersebut diambil dari buku, artikel, serta hasil wawancara di media massa. Data kemudian dicatat dan dianalisis berdasarkan teori yang digunakan. Dari lima kritikus yang dianalisis, penilaian terhadap novel Stasiun (1977) dibagi menjadi dua, yakni penilaian secara struktrural yang dilakukan oleh Jakob Sumardjo, Ahmad Fahrawi, Korrie Layun Rampan, dan Faruk serta penilaian secara keseluruhan gagasan dan tujuannya seperti yang dilakukan oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Penilaian pertama didasari horizon harapan karya sastra yang ekspresif sementara penilaian kedua didasari horizon harapan karya sastra yang memiliki tujuan optimisme pembangunan. Horizon harapan ini didasari prinsip sastra yang dimiliki setiap kritikus.