Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu
tanaman pangan penting, namun produktivitasnya masih rendah akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Salah satu alternatif untuk
mengatasi masalah tersebut yaitu melalui penerapan sistem tumpangsari jagung
manis dan kacang hijau. Sistem tumpangsari berpotensi meningkatkan kompleksitas
habitat yang mendukung keberadaan musuh alami sehingga dapat menekan populasi hama. Proporsi barisan yang berbeda dalam sistem tumpangsari dapat menciptakan kondisi pertanaman yang berbeda sehingga berpotensi memengaruhi keanekaragaman serangga serta pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
proporsi barisan tumpangsari jagung manis dan kacang hijau terbaik dalam
meningkatkan keanekaragaman serangga serta mendukung pertumbuhan dan hasil
kacang hijau. Penelitian dilaksanakan di Desa Dlimas, Ceper, Klaten, Jawa Tengah, pada bulan Oktober sampai Desember 2025.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Terdiri atas 3
perlakuan yaitu monokultur kacang hijau (P1), tumpangsari 1 baris jagung manis
+ 2 baris kacang hijau (P2), dan tumpangsari 1 baris jagung manis + 3 baris
kacang hijau (P3), dengan tiga ulangan. Pengamatan meliputi aspek serangga
(jenis dan populasi serangga), pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah
cabang, berat brangkasan segar, dan berat brangkasan kering), serta hasil
(jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman, jumlah biji per tanaman,
berat biji per tanaman, dan berat 100 biji). Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tumpangsari dengan proporsi barisan 1:3 dan proporsi barisan 1:2 dapat
meningkatkan keanekaragaman serangga dibandingkan sistem monokultur. Proporsi barisan tumpangsari 1:3 dapat meningkatkan pertumbuhan yaitu
tinggi tanaman (46,52 cm), berat brangkasan segar (86,84 g), dan berat
brangkasan kering (23,16 g), namun tidak dapat meningkatkan hasil tanaman
kacang hijau.