Abstrak


Elektrifikasi di Kabupaten RembangTahun 1927-1939


Oleh :
Della Novi Andini - B0422024 - Fak. Ilmu Budaya

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tahapan elektrifikasi yang dijalankan oleh Electriciteit Maatschappij Rembang (EMR) di afdeeling Rembang dari tahun 1927-1939, seperti apa yang mendorong masuknya energi listrik, bagaimana proses terjadinya konsesi listrik, dan dampak dari masuknya energi listrik di afdeeling Rembang.            Metode penelitian yang digunakan terdiri atas lima tahapan, yaitu pemilihan topik, heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik eksternal dan internal), interpretasi (menganalisis data), dan historiografi (penulisan ulang dari analisis). Data diperoleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) seperti, besluit No. 12 Batavia 12 Juni 1927, Staatsblad No. 190, verslag tanggal 7 Juni 1927. Surat kabar sezaman salah satunya dari De Locomotif dan Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie yang diperoleh dari delpher.nl . Peta koleksi yang diakses dari KITLV, serta berbagai literatur pendukung seperti jurnal ilmiah, buku, dan skripsi atau tesis. Sumber-sumber ini selanjutnya menggunakan kritik baik eksternal maupun internal, dijelaskan untuk memahami kebijakan dan praktik yang ada di lapangan, dan kemudian disusun menjadi narasi sejarah yang diselenggarakan.             Hasil penelitian menunjukkan bahwa masuknya energi listrik di afdeeling Rembang didorong oleh kebutuhan pemerintah kolonial untuk mendukung aktivitas administrasi, perkembangan ekonomi, dan modernisasi perkotaan. Pengelolaan kelistrikan mengalami peralihan konsesi dari SEM kepada ESDM sebagai bagian dari kebijakan pemerintah kolonial untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan serta memperluas pelayanan jaringan listrik. Dalam pelaksanaannya, sistem kelistrikan tetap berada di bawah pengawasan pemerintah kolonial melalui pengaturan konsesi dan standar teknis, sedangkan EMR bertindak sebagai pelaksana operasional. Keberadaan infrastruktur listrik memberikan dampak sosial berupa meningkatnya efisiensi pelayanan publik, berkembangnya kegiatan perdagangan dan industri, serta perubahan pola aktivitas masyarakat, meskipun pemanfaatannya masih membuka kawasan perkotaan dan belum menjangkau seluruh wilayah Afdeeling Rembang.         Kesimpulannya, masuknya energi listrik di Afdeeling Rembang pada periode 1927–1939 didorong oleh kebutuhan untuk mendukung perkembangan ekonomi, administrasi pemerintahan, dan modernisasi wilayah pada masa kolonial. Kebutuhan tersebut diikuti dengan proses pelestarian konsesi listrik dari SEM kepada ESDM sebagai upaya pemerintah kolonial untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan dan pengembangan jaringan kelistrikan di Afdeeling Rembang. Keberadaan infrastruktur listrik selanjutnya membawa dampak sosial berupa meningkatnya efisiensi pelayanan publik, berkembangnya kegiatan ekonomi, serta berubahnya pola aktivitas masyarakat.