Abstrak
NOVEL RE: DAN PEREMPUAN (2021) KARYA MAMAN SUHERMAN: KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
Oleh :
Viona Deby Pradita - B0222079 - Fak. Ilmu Budaya
Viona Deby Pradita. B0222079. 2026. Novel Re: dan peRempuan (2021) Karya Maman Suherman: Kajian
Semiotika Roland Barthes. Skripsi. Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Sebelas Maret, Surakarta.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas
representasi perempuan dan terselubungnya ideologi patriarki dalam novel Re:
dan peRempuan karya Maman Suherman. Kompleksitas tersebut menjerat
perempuan dalam kapitalisme hitam dan marjinalisasi sosial, sehingga memerlukan
kajian kritis untuk mengungkap bagaimana sistem tanda mengonstruksi
ketertindasan sekaligus agensi mereka.Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis cara kerja
lima kode pembacaan Roland Barthes (hermeneutik, proairetik, semik, simbolik,
dan kultural) dalam membongkar wacana representasi perempuan dan ideologi
patriarki dalam novel tersebut, serta (2) mendeskripsikan wujud representasi
perempuan melalui sistem tanda naratif dengan fokus pada kode semik dan
proairetik.Data penelitian berupa satuan lingual (kata, frasa,
kalimat, paragraf) yang mengindikasikan representasi perempuan dan ideologi
patriarki. Data diidentifikasi melalui pemotongan teks secara mikroskopis ke
dalam unit terkecil (leksia). Sumber data utama adalah novel Re: dan peRempuan
(2021) karya Maman Suherman.Penelitian kepustakaan deskriptif kualitatif ini
menggunakan pendekatan semiotika strukturalis Roland Barthes. Data dikumpulkan
melalui metode simak dengan teknik catat, lalu dianalisis melalui tahap
reduksi, klasifikasi ke dalam lima kode pembacaan, interpretasi makna semiotik
berlapis, hingga penarikan simpulan deskriptif.Hasil penelitian menyimpulkan: Pertama penerapan lima
kode Barthes berhasil membongkar opresi perempuan. Kode hermeneutik mengungkap
depersonalisasi, femisida, dan sabotase penolakan; kode proairetik memetakan
eksploitasi, perbudakan utang, dan ketangguhan maternal; sedangkan kode semik
mengonfirmasi stereotip, animalisasi, dan hipokrasi moral.Kedua, di
balik dominasi kapitalisme hitam dan patriarki, tokoh perempuan terbukti
memiliki agensi perlawanan batin, kedaulatan moral keibuan, serta rasionalitas
intelektual yang mampu mendekonstruksi mitos ketundukan gender.