Abstrak


RESEPSI AUDIENS TERHADAP KONSTRUKSI MASKULINITAS DALAM REPRESENTASI DIRI AKUN TIKTOK @alegeor_


Oleh :
Naufal Sayidina Kusumawardhana - D0222090 - Fak. ISIP

Maskulinitas selama ini umumnya dikonstruksikan melalui karakteristik seperti ketegasan, dominasi, dan penolakan terhadap atribut yang diasosiasikan dengan femininitas. Namun, media sosial menghadirkan berbagai representasi maskulinitas yang tidak selalu sesuai dengan konstruksi tersebut. Fenomena ini terlihat pada akun TikTok @alegeor_ milik Alessandro Georgie yang secara konsisten menampilkan gaya berbusana genderless serta ekspresi diri yang berbeda dari maskulinitas tradisional. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi maskulinitas yang ditampilkan Alessandro Georgie melalui akun TikTok @alegeor_ serta memahami bagaimana representasi tersebut dimaknai oleh audiensnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Analisis didasarkan pada perspektif Konstruksi Realitas Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, konsep performativitas gender Judith Butler, serta model encoding-decoding Stuart Hall. Data diperoleh melalui observasi konten TikTok @alegeor_ periode 2023–2026, wawancara mendalam dengan 12 informan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ale mengonstruksi maskulinitas melalui representasi visual dan verbal yang memadukan simbol maskulin dan feminin, seperti gaya berbusana genderless, penggunaan aksesori, make-up, perawatan diri, gestur tubuh yang lembut, serta gaya komunikasi yang tenang. Representasi tersebut menghadirkan bentuk maskulinitas yang lebih ekspresif, fleksibel, dan non-konvensional. Temuan juga menunjukkan bahwa mayoritas audiens menerima kebebasan berekspresi yang ditampilkan Ale, meskipun masih mempertahankan batas tertentu terkait penggunaan rok dan make-up. Penelitian ini menyimpulkan bahwa representasi diri di media sosial berperan dalam membentuk dan menegosiasikan pemahaman audiens mengenai maskulinitas, sehingga TikTok menjadi ruang bagi produksi, negosiasi, dan pemaknaan ulang maskulinitas dalam konteks budaya digital.