Abstrak
Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Kasus Berbantuan Media Permainan DETAK (Detektif Akuntansi) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Pembelajaran Rekonsiliasi Bank di SMK Negeri 1 Sukoharjo
Oleh :
Muhammad Farel Rochmedy - K7722054 - Fak. KIP
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis kasus berbantuan media permainan DETAK (Detektif Akuntansi) terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada pembelajaran rekonsiliasi bank di SMK Negeri 1 Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen non-equivalent control group design. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 1 Sukoharjo pada semester genap tahun ajaran 2025/2026. Sampel penelitian ini terdiri dari dua kelas, yaitu kelas XI AKL 1 sebagai kelas eksperimen yang mendapatkan perlakuan dan kelas XI AKL 2 sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen tes kemampuan berpikir kritis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis dengan uji Independent Samples t-test serta uji N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan Sig. 2-tailed sebesar 0,000. Perbedaan ini juga didukung oleh hasil uji N-Gain, di mana rata-rata skor N-Gain kelas eksperimen yang memperoleh perlakuan adalah sebesar 0,5275 (kategori sedang). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata peningkatan pada kelas kontrol yang hanya memperoleh skor N-Gain sebesar 0,2284 (kategori rendah). Dari hasil tersebut, disarankan agar temuan ini dapat menjadi referensi bagi pendidik dalam merancang pembelajaran yang lebih inovatif, menyenangkan, dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik secara maksimal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran berbasis kasus berbantuan media permainan DETAK terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan lebih optimal. Hal ini juga sejalan dengan teori konstruktivisme sosial yang menekankan pentingnya scaffolding dan interaksi sosial dalam membangun pengetahuan secara aktif dan bermakna.