Abstrak
SYAIR BURUNG MALAYO-POLYNESIENS 245: SUNTINGAN TEKS DAN ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE
Oleh :
Azzra Rahma Chandran Noor Litasari - B0222013 - Fak. Ilmu Budaya
Azzra
Rahma Chandran Noor Litasari. B0222013. 2026. Syair Burung
Malayo-Polynesiens 245: Suntingan Teks dan Analisis Semiotika Charles Sanders
Peirce. Skripsi: Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Sebelas Maret. Permasalahan yang dibahas dalam
penelitian ini adalah (1) Bagaimana suntingan teks Syair Burung kode Malayo-Polynesiens
245 koleksi Bibliotheque National de France yang baik dan benar? (2)
Bagaimana makna simbolik hewan dalam teks Syair Burung berdasarkan
konsep trikotomi tanda meliputi ikon, indeks, dan simbol yang dikemukakan oleh
Peirce? Jenis penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif. Teknik pemerolehan data dilakukan dengan mengunduh file
secara digital dalam bentuk PDF melalui laman resmi Bibliotheque
National de France. File tersebut dapat diakses melalui pranala https://gallica.bnf.fr/ark:/12148/btv1b100273715. Teknik analisis
yang digunakan dalam penelitian ini ialah kajian semiotika Charles Sanders
Peirce yang berfokus pada konsep trikotomi tanda, yakni ikon, indeks, dan
simbol. Data penelitian ini berupa teks Syair Burung yang berisi tentang
percakapan berbagai tokoh burung yang membicarakan keesaan Allah serta
ajaran-ajaran Islam. Metode yang digunakan adalah metode
landasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah Syair Burung merupakan
naskah jamak yang tersebar di Prancis, Belanda, dan Indonesia. Suntingan teks
menghasilkan perbaikan terhadap berbagai kesalahan penyalinan yang meliputi 6
adisi, 6 lakuna, 7 substitusi, dan 10 ketidakkonsistenan penulisan. Analisis
semiotika menunjukkan adanya 33 tokoh burung yang membentuk sistem makna
melalui hubungan ikon, indeks, dan simbol. Pada tataran ikon, karakteristik
biologis burung menjadi dasar kemiripan dengan sifat manusia. Pada tataran
indeks, ucapan dan tindakan tokoh burung menunjukkan hubungan sebab-akibat yang
berkaitan dengan pengetahuan, kondisi spiritual, dan perilaku sosial. Pada
tataran simbol, tokoh-tokoh burung merepresentasikan berbagai karakter manusia
dalam masyarakat Melayu-Islam. Dengan demikian, tokoh burung dalam Syair
Burung berfungsi sebagai alegori yang menyampaikan nilai religius, kritik
sosial, dan nasihat moral secara implisit.