Abstrak


Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Lingkungan Belajar Sekolah terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis SMK Negeri 3 Surakarta


Oleh :
Ayu Ningsih - K7522022 - Fak. KIP

Ayu Ningsih. K7522022. Pembimbing: Anton Subarno, S.Pd., M.Pd., Ph.D. PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL DAN LINGKUNGAN BELAJAR SEKOLAH TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS XI MANAJEMEN PERKANTORAN DAN LAYANAN BISNIS SMK NEGERI 3 SURAKARTA. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2026.Motivasi belajar merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan pembelajaran siswa, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun, masih ditemukan siswa dengan motivasi belajar rendah sehingga diperlukan faktor pendukung, seperti kecerdasan emosional dan lingkungan belajar sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap motivasi belajar siswa, (2) mengetahui pengaruh lingkungan belajar sekolah terhadap motivasi belajar siswa, dan (3) mengetahui pengaruh kecerdasan emosional serta lingkungan belajar sekolah secara bersama-sama terhadap motivasi belajar siswa kelas XI MPLB SMK Negeri 3 Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif kausalitas dengan sampel 105 siswa melalui teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan kuesioner skala likert modifikasi 1–4 dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda melalui IBM SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa dengan nilai signifikansi 0,000 < 0> ttabel 1,98; (2) lingkungan belajar sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa dengan nilai signifikansi 0,000 < 0> ttabel 1,98; serta (3) kecerdasan emosional dan lingkungan belajar sekolah secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa dengan nilai signifikansi 0,000 < 0> Ftabel 3,09. Kemampuan siswa dalam mengenali dan mengelola emosi dapat mendorong semangat serta ketekunan belajar, sedangkan lingkungan belajar yang kondusif mampu menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan mendukung. Selanjutnya, kedua variabel tersebut memberikan kontribusi sebesar 43,1% terhadap motivasi belajar siswa, dengan lingkungan belajar sekolah sebagai variabel yang lebih dominan. Oleh karena itu, sekolah dan guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang positif melalui fasilitas yang memadai, hubungan yang harmonis, serta pendekatan pembelajaran yang empatik dan komunikatif. Sementara itu, siswa juga perlu meningkatkan kemampuan dalam mengelola emosi dan memotivasi diri agar proses belajar dapat berjalan secara optimal. Selain memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan kajian mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi motivasi belajar dengan cakupan variabel, subjek, dan lokasi penelitian yang lebih luas agar hasil penelitian semakin representatif.