Abstrak


TINDAKAN KOMUNIKATIF DALAM PROGRAM TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN BERBENTUK PEMBERDAYAAN OLEH PLN UP3 YOGYAKARTA DAN SEKOLAH SUNGAI SILUK MELALUI PENYETARAAN


Oleh :
Firdeny Syah Putra - D0322047 - Fak. ISIP

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) diklaim berhasil memberdayakan masyarakat, namun klaim tersebut jarang diuji melalui proses komunikasi yang melatarbelakanginya. Penelitian terdahulu mengenai program TJSL PT PLN UP3 Yogyakarta di Sekolah Sungai Siluk (SSS) menegaskan keberhasilan pemberdayaan, tetapi hanya berfokus pada output dan outcome tanpa menjelaskan proses interaksi antara perusahaan dan komunitas. Penelitian terdahulu itu tidak menjelaskan proses dari klaim keberhasilan pemberdayaan itu sendiri dan menciptakan research gap mengenai negosiasi kepentingan, kepercayaan, dan kesetaraan relasi antar aktor. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan regulasi dan tata kelola program TJSL PLN, lanskap serta kesejarahan SSS, keterlibatan aktor, dan menganalisis dinamika komunikasi serta proses penyetaraan antara PLN dan SSS dalam program TJSL berbentuk pemberdayaan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara mendalam semi terstruktur, dan dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposive, meliputi pengelola program TJSL PLN serta pengelola dan orang tua di SSS. Validitas data diperiksa menggunakan triangulasi sumber, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Kerangka teori tindakan komunikatif Jurgen Habermas digunakan untuk menganalisis relasi antara sistem (system) dan dunia kehidupan (lifeworld), klaim validitas, serta kolonisasi dunia kehidupan. Hasil penelitian menunjukkan PLN merepresentasikan sistem yang dikendalikan kerangka regulasi, sedangkan SSS merepresentasikan dunia kehidupan yang berakar pada solidaritas komunal. Keduanya menghadapi asimetri struktural, namun penyetaraan tercapai melalui tiga mekanisme: pergeseran relasi kuasa berbasis kepercayaan, ruang informal sebagai situasi wicara ideal (ideal speech situation), dan modal sosial SSS sebagai kapasitas resistensi terhadap kolonisasi. Pendekatan Creating Shared Value (CSV) yang diterapkan PLN memuat potensi kolonisasi halus, tetapi juga menunjukkan komitmen menuju tindakan komunikatif. Penelitian menyimpulkan keberhasilan pemberdayaan dalam program TJSL PLN-SSS bukan pemberian sepihak, melainkan hasil tindakan komunikatif melalui penyetaraan di tengah asimetri struktural yang tetap ada, dengan SSS memiliki kapasitas agensi untuk menahan kolonisasi dan mengarahkan program sesuai kebutuhan  komunitas.