Abstrak


PERAN PRODUSER DAN PENULIS NASKAH PADA PROSES PRODUKSI FILM DOKUMENTER “RESONANSI : SENI MUSIK SEBAGAI MEDIA EKSPRESI KEKECEWAAN”


Oleh :
Laras Salmaa Ananingsih - V1123072 - Sekolah Vokasi

Perbedaan kerap dipandang sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan, bukan dipahami, terutama bagi anak berkebutuhan khusus di lingkungan sosial. Keresahan ini melatarbelakangi produksi film dokumenter “Resonansi : Seni Musik Sebagai Media Ekspresi Kekecewaan” yang mengangkat kisah Dito atau Banditoz Yaow, musisi hip-hop asal Yogyakarta, dan putranya Tama yang menyandang autisme. Laporan tugas akhir ini bertujuan untuk menjelaskan peran penulis sebagai produser sekaligus penulis naskah dalam pembuatan film dokumenter “Resonansi : Seni Musik Sebagai Media Ekspresi Kekecewaan”, serta bagaimana proses produksinya dijalankan. Laporan ini mendeskripsikan sekaligus mendokumentasikan keterlibatan penulis dalam seluruh proses produksi. Proses produksi film dokumenter ini berlangsung selama kurang lebih empat bulan, dengan lokasi syuting di Yogyakarta dan Surakarta. Sebagai penulis naskah, penulis bertanggung jawab dalam menyusun premis, logline, sinopsis, naskah, hingga melakukan revisi naskah. Sebagai produser, penulis menjalankan sejumlah teknis manajerial, meliputi penyusunan rancangan anggaran biaya (RAB), penyusunan timeline syuting dan editing, sewa peralatan produksi, serta koordinasi dengan kru yang berasal dari luar kelompok tugas akhir ini. Hasil dari proses ini menunjukkan bahwa peran produser dan penulis naskah sangat berpengaruh dalam menjaga arah cerita dan kualitas produksi film berdurasi 20 menit ini. Film ini tidak hanya memperkenalkan sosok Banditoz sebagai musisi, tetapi membuktikan bahwa musik dapat menjadi media untuk menyampaikan kekecewaan yang jujur terhadap perlakuan masyarakat atas perbedaan. Laporan ini menyimpulkan bahwa keberhasilan produksi tidak hanya ditentukan aspek teknis, tetapi juga narasi yang kuat dan koordinasi tim yang baik, sehingga film ini diharapkan membuka cara pandang penonton agar lebih terbuka terhadap keterbatasan yang dimiliki orang lain.