Abstrak


PERAN EDITOR PADA PROSES PRODUKSI FILM DOKUMENTER “RESONANSI : SENI MUSIK SEBAGAI MEDIA EKSPRESI KEKECEWAAN”


Oleh :
Najahul Imtikhan Maula Pramuja - V1123098 - Sekolah Vokasi

Perbedaan kerap dipandang sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan, bukan dipahami, terutama bagi anak berkebutuhan khusus di lingkungan sosial. Keresahan ini melatarbelakangi produksi film dokumenter "Resonansi: Seni Musik Sebagai Media Ekspresi Kekecewaan" yang mengangkat kisah Dito atau Banditoz Yaow, musisi hip-hop asal Yogyakarta, dan putranya Tama yang menyandang autism. Laporan tugas akhir ini bertujuan untuk menjelaskan peran penulis sebagai editor dalam pembuatan film dokumenter "Resonansi: Seni Musik Sebagai Media Ekspresi Kekecewaan", serta bagaimana proses kreatif dan produksinya dijalankan. Laporan ini mendeskripsikan sekaligus mendokumentasikan keterlibatan penulis dalam seluruh proses produksi, khususnya dalam menerjemahkan konsep naratif ke dalam bentuk audio-visual. Proses produksi film dokumenter ini berlangsung selama kurang lebih empat bulan, dengan lokasi syuting di Yogyakarta dan Surakarta. Penulis berperan sebagai editor yang bertanggung jawab atas seluruh tahap proses editing dalam penyusunan video, mulai dari pemilahan dan penyusunan hasil pengambilan gambar atau footage, penataan ritme dan alur cerita, hingga penambahan efek visual dan motion graphic untuk memperkuat penyampaian pesan naratif. Dalam masa pascaproduksi, editor memegang peran penting dalam merangkai potongan-potongan gambar yang telah diambil selama produksi menjadi satu kesatuan cerita yang runtut, emosional, dan sesuai dengan visi kreatif yang telah dirancang sejak tahap praproduksi. Hasil dari proses ini menunjukkan bahwa peran editor sangat berpengaruh dalam menjaga kesatuan alur naratif, ritme emosional, serta kualitas audio-visual sebuah film. Film ini tidak hanya memperkenalkan sosok Banditoz sebagai musisi, tetapi juga membuktikan bahwa musik dapat menjadi media untuk menyampaikan kekecewaan yang jujur terhadap perlakuan masyarakat atas perbedaan. Laporan ini menyimpulkan bahwa keberhasilan produksi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis semata, tetapi juga oleh kepekaan editor dalam memaknai setiap footage, ketelitian dalam menyusun struktur naratif, dengan demikian, film ini diharapkan mampu membuka cara pandang penonton agar lebih terbuka terhadap keterbatasan yang dimiliki orang lain.