Abstrak
KESADARAN KOLEKTIF MASYARAKAT SUDIROPRAJAN DALAM MEMBANGUN TOLERANSI BERAGAMA MELALUI TRADISI GREBEG SUDIRO DI SURAKARTA
Oleh :
Lipo Pansius Simarmata - D0321057 - Fak. ISIP
Lipo Pansius Simarmata.D0321057.2025.”Kesadaran Kolektif Masyarakat Sudiroprajan
dalam Membangun Toleransi Beragama Melalui Tradisi Grebeg Sudiro di
Surakarta”.Skripsi.Dr.Yuyun Sunesti G.D.Soc.,M.A.Program Studi
Sosiologi.Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.Universitas Sebelas Maret
Surakarta. Indonesia merupakan negara multikultural yang
kaya akan keanekaragaman budaya, etnis, agama, dan bahasa. Dengan lebih dari
17.000 pulau, 1.340 suku bangsa, dan 600 jenis bahasa, keberagaman tersebut
diikat oleh prinsip Bhineka Tunggal Ika sebagai simbol persatuan untuk
mewujudkan kehidupan bangsa yang adil dan sejahtera. Namun, keberagaman ini
juga membawa tantangan berupa potensi konflik sosial apabila tidak dikelola
dengan baik. Kota Surakarta adalah salah satu contoh wilayah multikultural di
Indonesia yang berhasil membangun harmoni sosial melalui interaksi antara etnis
Jawa dan Tionghoa. Di Surakarta terdapat Kampung Sudiroprajan, sebuah kawasan
dengan sejarah panjang interaksi budaya, yang menjadi simbol toleransi melalui
tradisi Grebeg Sudiro sebuah perayaan tahunan yang mencerminkan perpaduan
budaya Jawa dan Tionghoa.Grebeg Sudiro tidak hanya menjadi tradisi budaya,
tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk mempromosikan toleransi antarumat
beragama. Tradisi ini menunjukkan bahwa perbedaan agama dan budaya bukanlah
penghalang untuk hidup berdampingan secara damai. Penelitian ini berfokus pada
dinamika hubungan antara dua kelompok etnis, yakni Jawa dan Tionghoa, di
Kampung Sudiroprajan. Dengan mengeksplorasi sejarah interaksi sosial,
pelaksanaan tradisi Grebeg Sudiro, serta kesadaran kolektif masyarakat,
penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung
stabilitas sosial dan harmoni budaya di tengah keberagaman.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara
mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Teori yang digunakan
untuk menganalisis fenomena ini adalah teori kesadaran kolektif Emile Durkheim,
yang menjelaskan bagaimana norma, nilai, dan kepercayaan bersama mampu
membentuk solidaritas sosial dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kesadaran kolektif masyarakat Sudiroprajan telah tumbuh secara organik melalui
pengalaman sejarah bersama, interaksi lintas budaya, dan partisipasi aktif
dalam kegiatan tradisi bersama. Kesadaran inilah yang menjadi pondasi dalam
menjaga kerukunan, memperkuat toleransi, dan mencegah potensi konflik antar
kelompok etnis. Dengan demikian, Kampung Sudiroprajan dapat dijadikan sebagai
contoh nyata pengelolaan keberagaman berbasis kesadaran masyarakat lokal, yang
relevan untuk diterapkan di berbagai wilayah multikultural lainnya di
Indonesia.
Lipo Pansius Simarmata. D0321057. 2025. The Collective Consciousness
of the Sudiroprajan Community in Fostering Religious Tolerance through the
Grebeg Sudiro Tradition in Surakarta. Undergraduate Thesis. Dr. Yuyun
Sunesti, G.D.Soc., M.A. Department of Sociology, Faculty of Social and
Political Sciences,Sebelas Maret Unuversity,Surakarta.Indonesia is a multicultural country rich in cultural, ethnic,
religious, and linguistic diversity. With over 17,000 islands, 1,340 ethnic
groups, and 600 languages, this diversity is united by the principle of “Bhinneka
Tunggal Ika” (Unity in Diversity) as a symbol of unity to achieve a just and
prosperous nation. However, this diversity also presents challenges in the form
of potential social conflicts if not managed properly. The city of Surakarta is
one example of a multicultural region in Indonesia that has successfully built
social harmony through interaction between the Javanese and Chinese ethnic
groups. In Surakarta, there is Kampung Sudiroprajan, an area with a long
history of cultural interaction, which has become a symbol of tolerance through
the Grebeg Sudiro tradition annual celebration that reflects the fusion of
Javanese and Chinese cultures. Grebeg Sudiro is not only a cultural tradition
but also serves as a means to promote interfaith tolerance. This tradition
demonstrates that differences in religion and culture are not obstacles to
living together peacefully. This study focuses on the dynamics of the
relationship between the two ethnic groups, Javanese and Chinese, in Kampung
Sudiroprajan. By exploring the history of social interaction, the
implementation of the Grebeg Sudiro tradition, and the collective consciousness
of the community, this study aims to identify the factors that support social
stability and cultural harmony amid diversity.
The
approach used in this study is a qualitative approach with data collection
techniques through in-depth interviews, participatory observation, and
documentary studies. The theory used to analyze this phenomenon is Emile
Durkheim's collective consciousness theory, which explains how shared norms,
values, and beliefs can form social solidarity in society. The results of the
study show that the collective consciousness of the Sudiroprajan community has
grown organically through shared historical experiences, cross-cultural
interactions, and active participation in shared traditional activities. This
consciousness serves as the foundation for maintaining harmony, strengthening
tolerance, and preventing potential conflicts between ethnic groups. Thus,
Sudiroprajan Village can serve as a concrete example of diversity management
based on local community consciousness, which is relevant for application in
other multicultural regions across Indonesia.