Abstrak
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TERHADAP
KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DITINJAU DARI SOSIAL
EMOSIONAL DI KECAMATAN SRAGEN KABUPATEN SRAGEN
TAHUN AJARAN 2025/2026
Oleh :
Indri Rahmawati - S032502013 - Fak. KIP
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menguji mana yang lebih baik dalam menghasilkan
keterampilan berpikir kritis antara model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
atau model pembelajaran langsung, pada pembelajaran matematika; 2) menguji yang lebih
baik dalam menghasilkan keterampilan berpikir kritis dari sosial emosional dengan
kriteria: Tinggi, Sedang, atau Rendah, pada pembelajaran matematika; dan 3) menguji dan
mendeskripsikan interaksi antara model pembelajaran PBL dan model pembelajaran
langsung dengan sosial emosional terhadap keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran
matematika.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu
(quasi experiment). Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik kelas VI sekolah dasar
di Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen, dengan teknik pengambilan sampel
menggunakan cluster random sampling sehingga diperoleh 52 peserta didik sebagai
kelompok eksperimen dan 54 peserta didik sebagai kelompok kontrol. Pengumpulan data
dilakukan melalui tes keterampilan berpikir kritis dan angket sosial emosional yang telah
memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan analisis variansi
(Anava) dua jalan dengan sel tak sama untuk menguji pengaruh variabel dan interaksinya,
serta dilanjutkan dengan uji Scheffe sebagai uji lanjut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) model PBL lebih efektif dibandingkan
model pembelajaran langsung dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta
didik pada materi operasi perkalian dan pembagian pecahan; (2) peserta didik dengan
tingkat sosial emosional kategori Tinggi dan Sedang memiliki keterampilan berpikir kritis
yang lebih baik dibandingkan peserta didik dengan kategori Rendah; dan (3) tidak terdapat
interaksi antara model pembelajaran dan tingkat sosial emosional terhadap keterampilan
berpikir kritis. Dan tidak terdapat interaksi antara tingkat sosial emosional dan model
pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kritis. Disimpulkan bahwa model
pembelajaran PBL merupakan model yang lebih efektif dibandingkan pembelajaran
langsung dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik sekolah dasar,
sedangkan sosial emosional berperan sebagai faktor internal yang berkontribusi terhadap
pencapaian keterampilan berpikir kritis tanpa memengaruhi efektivitas model
pembelajaran. Implikasi penelitian ini adalah model PBL dapat direkomendasikan sebagai
alternatif pembelajaran matematika yang efektif untuk diterapkan pada kelas dengan
tingkat sosial emosional peserta didik yang beragam. Selain itu, guru dan sekolah perlu
mengintegrasikan sosial emosional ke dalam pembelajaran berbasis masalah guna
mendukung keterampilan berpikir kritis secara optimal.