Abstrak


Citra Sosial Mahasiswa “Ngopi Kalcer” dan Ekspresi Gaya Hidup Konsumsi di Coffeeshop Kalagyan Dan ODDS Kota Surakarta


Oleh :
Christian Bambang Isnugroho Djatmiko - D0322027 - Fak. ISIP

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya fenomena “Ngopi Kalcer” di kalangan mahasiswa yang menunjukkan pergeseran fungsi coffeeshop dari sekadar tempat mengonsumsi minuman menjadi ruang sosial yang memiliki makna simbolik. Coffeeshop tidak hanya digunakan untuk minum kopi, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan citra sosial, mengekspresikan gaya hidup, berinteraksi, dan melakukan berbagai aktivitas mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik citra sosial mahasiswa dalam budaya “Ngopi Kalcer”, ekspresi gaya hidup mahasiswa dalam perilaku konsumsi di Kalagyan Coffee dan ODDS Coffee, serta keterkaitan antara citra sosial dan ekspresi gaya hidup konsumsi mahasiswa. Penelitian ini menggunakan teori konsumsi simbolik Jean Baudrillard dan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari delapan mahasiswa, dua pengelola coffeeshop, dan dua barista dari Kalagyan Coffee dan ODDS Coffee Kota Surakarta. Analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam budaya “Ngopi Kalcer” memiliki karakteristik citra sosial yang tercermin melalui gaya berpakaian ekspresif, cara berinteraksi yang santai, serta kecenderungan memilih coffeeshop berdasarkan estetika, ambience, dan nilai simbolik tempat tersebut. Ekspresi gaya hidup mahasiswa tidak hanya terlihat dari aktivitas mengonsumsi kopi, tetapi juga melalui kegiatan nongkrong, berdiskusi, mengerjakan tugas, bersosialisasi, hingga mendokumentasikan aktivitas di media sosial. Keterkaitan antara citra sosial dan gaya hidup terbentuk melalui interaksi sosial serta proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang menjadikan aktivitas “Ngopi Kalcer” sebagai praktik sosial yang dianggap wajar dalam kehidupan mahasiswa. Dalam perspektif Baudrillard, mahasiswa tidak hanya mengonsumsi kopi, tetapi juga mengonsumsi tanda, makna, suasana, dan citra sosial yang melekat pada coffeeshop. Sementara itu, perspektif Berger dan Luckmann menjelaskan bagaimana praktik tersebut dikonstruksi, direproduksi, dan diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. Dengan demikian, coffeeshop dapat dipahami sebagai ruang sosial yang menjadi tempat konsumsi simbolik sekaligus ekspresi citra sosial dan gaya hidup mahasiswa di Kota Surakarta.