Abstrak


Tindak Tutur Direktif dalam Naskah Drama 'Audatul Firdaus Karya Ali Ahmad Bakatsir


Oleh :
Prasidya Fajar Ramadhani - B0522060 - Fak. Ilmu Budaya

Keberhasilan komunikasi mengharuskan pemahaman terhadap maksud sebuah tuturan. Maksud tersebut, khususnya dalam tindak tutur direktif, tidak selalu diwakili secara eksplisit oleh bentuk tuturan yang digunakan. Kompleksitas relasi bentuk dan fungsi semacam ini banyak dijumpai dalam karya sastra berbentuk dialog, termasuk naskah drama “‘Audatul Firdaus” karya Ali Ahmad Bakatsir. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini merumuskan dua permasalahan, yaitu (1) bagaimana bentuk tindak tutur direktif dalam naskah drama “‘Audatul Firdaus” karya Ali Ahmad Bakatsir dan (2) bagaimana fungsi tindak tutur direktif dalam naskah drama “‘Audatul Firdaus” karya Ali Ahmad Bakatsir.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) bentuk tindak tutur direktif dan (2) fungsi tindak tutur direktif dalam naskah drama tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan keilmuan pragmatik dan pendekatan metodologis kualitatif deskriptif. Bentuk tindak tutur direktif dianalisis menggunakan kerangka teori Rohmadi (2017) dan Al-Jarim & Amin (1961), sedangkan fungsinya dianalisis menggunakan integrasi teori Searle & Vanderveken (1985) dan Ainin (2010). Data penelitian berupa tuturan direktif dalam dialog antartokoh naskah drama “‘Audatul Firdaus” (1946), dikumpulkan melalui metode simak dengan teknik sadap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode padan pragmatis melalui teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) dan teknik hubung banding, meliputi Hubung Banding Menyamakan (HBS), Hubung Banding Membedakan (HBB), dan Hubung Banding Menyamakan Hal Pokok (HBSP). Simpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) bentuk tindak tutur direktif dalam naskah tersebut direalisasikan melalui tiga bentuk, yaitu deklaratif, imperatif, dan interogatif yang masing-masing muncul dalam pola kalimat yang beragam; dan (2) fungsi tindak tutur direktif ditemukan sebanyak delapan belas fungsi. Delapan di antaranya request, ask, mandative, forbid, demand, advisory, warn, dan supplicative masing-masing berkembang menjadi beberapa pola fungsi turunan, sedangkan sepuluh fungsi lainnya, yaitu permit, pray, urge, insist, mencari muka, menyeru, menantang, menguji, memberi stimulus, dan menggugah, tidak memiliki pola pengembangan.