Abstrak


SUBJEKTIVITAS PEREMPUAN DALAM NOVEL SEBAB KITA SEMUA GILA SEKS (2021) DAN MAAF, ORGASME BUKAN HANYA URUSAN KELAMIN (2022) KARYA ESTER PANDIANGAN: KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINIS HELENE CIXOUS


Oleh :
Dea Cantika - B0222019 - Fak. Ilmu Budaya

Dea Cantika. B0222019. 2026. “Subjektivitas Perempuan dalam Novel Sebab Kita Semua Gila Seks (2021) dan Maaf, Orgasme Bukan hanya Urusan Kelamin (2022) Karya Ester Pandiangan: Kajian Kritik Sastra Feminis Helene Cixous”. Skripsi: Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sistem patriarki yang telah terinternalisasi ke dalam bahasa (phallogocentrism) membawa pengalaman-pengalaman perempuan dalam terma kedua yang pasif dan tak pantas dibicarakan. Pengarang-pengarang perempuan di awal kemunculannya membahas seksualitas dihujani kritik dan subversi tidak seperti pengarang laki-laki ketika menulis tema serupa. Perempuan, baik dalam budaya maupun karya sastra dibuat untuk merasa rendah diri dan malu ketika membahas tubuhnya, mereka terus didefinisikan berdasarkan pendangan-pandangan dari luar (male gaze). Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merebut kembali otoritas politik tubuh perempuan dan bahasanya yang telah terkolonialisasi oleh sistem bias patriarkial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deksriptif yang menggunakan pendekatan kritik sastra feminis menggunakan kerangka teori ecriture feminine (bahasa perempuan) Helene Cixous. Sumber data penelitian adalah novel Sebab Kita Semua Gila Seks (2021) dan Maaf, Orgasme Bukan hanya Urusan Kelamin (2022) karya Ester Pandiangan. Data yang diambil merupakan teks tertulis dari kedua buku Ester Pandiangan yang dianalisis untuk diteliti bagaimana dan mengapa subjektivitas perempuan diwujudkan melalui representasi elemen-elemen tematik dan strategi naratif yang mendukung ecriture feminine. Data dikumpulkan menggunakan teknik baca dan catat. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (i) perempuan dalam teks merupakan subjek yang berdiri atas dirinya sendiri dengan menggunakan pengalaman tubuhnya yang plural dan tak terbatas sebagai sumber pengetahuan; (ii) pengarang  menggunakan bahasa untuk mengacaukan tatanan simbolik maskulin melalui tata naratif yang mengandung voler (pencurian bahasa), segmentasi, alur sirkular, pencampuran genre, rhizomatic narrative, serta pendekatan pada biseksualitas liyan  (iii) Pengarang menggunakan strategi bahasa yang radikal dan subversif sebagai perlawanan pada patriarki yang menjadikan perempuan sebagai korban dari ketidakadilan sistemik.