Abstrak
PRAKTIK KOMUNIKASI DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS KOLEKTIF PADA KOMUNITAS NYANYI BARENG JAKARTA (NBJ)
Oleh :
Salshabila Ananda - D0222116 - Fak. ISIP
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena kehidupan masyarakat urban yang sering diasosiasikan dengan hubungan sosial yang semakin impersonal dan individualistik. Di tengah kondisi tersebut, Komunitas Nyanyi Bareng Jakarta (NBJ) hadir sebagai komunitas urban nonformal berbasis minat yang mempertemukan individu-individu yang sebelumnya tidak saling mengenal (strangers) dalam aktivitas bernyanyi bersama di ruang publik. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana praktik komunikasi berlangsung dalam NBJ serta bagaimana praktik tersebut membentuk identitas kolektif partisipannya. Penelitian ini menggunakan perspektif komunikasi ritual James Carey dan teori Interaction Ritual Chains Randall Collins, yang diperkuat dengan konsep identitas kolektif Alberto Melucci. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap tujuh informan, observasi partisipatif pada tiga sesi kegiatan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik komunikasi NBJ berlangsung sebagai komunikasi ritual yang memenuhi empat unsur, yaitu kehadiran fisik bersama (bodily co-presence), batas terhadap pihak luar (barrier to outsiders), fokus perhatian bersama (mutual focus of attention), dan suasana emosi bersama (shared emotional mood), yang saling menguat hingga memuncak dalam luapan emosi kolektif (collective effervescence). Unsur-unsur tersebut dibangun melalui rangkaian #TemukanTeman, #TemukanSuara, dan #TemukanRasa serta nilai inklusif #NoJudgementZone. Kelengkapan unsur ritual tersebut terbukti menjadi syarat terbentuknya keterhubungan, bukan sekadar pelengkap teknis. Rangkaian ritual ini menghasilkan energi emosional, solidaritas, dan simbol bersama yang mendorong partisipan memaknai dirinya sebagai bagian dari komunitas, meskipun keanggotaannya tidak formal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa identitas kolektif dalam NBJ terbentuk melalui pengalaman kebersamaan yang dihasilkan oleh praktik komunikasi ritual yang partisipatif, inklusif, dan emosional. Temuan ini menunjukkan bahwa identitas kolektif tidak selalu lahir dari kesamaan latar belakang sosial maupun keanggotaan formal, tetapi dapat berkembang melalui partisipasi berulang dalam pengalaman kolektif yang bermakna. Di tengah masyarakat urban yang individualistik, NBJ menjalankan fungsi emosional sekaligus sosial dengan mengubah strangers menjadi bagian dari pengalaman kebersamaan "kami".