Abstrak
Perilaku Geofoam Yang Diperkuat Angkur Heliks Pada Tanah Gambut Akibat Beban Aksial dan Gaya Angkat
Oleh :
Reki Arbianto - T752302002 - Fak. Teknik
Tanah gambut yang lunak dan berdaya dukung rendah menimbulkan tantangan
pada konstruksi jalan, sedangkan geofoam sebagai material timbunan ultra-ringan
rentan terhadap gaya angkat hidrostatis akibat kenaikan muka air. Dalam
penelitian ini, tekanan udara pneumatik digunakan sebagai beban angkat ekivalen
yang terkontrol untuk mengevaluasi respons dan kerusakan lokal pada geofoam.
Kajian yang mengintegrasikan geofoam, tanah gambut, dan angkur heliks
sebagai satu sistem perkuatan terhadap gaya angkat masih terbatas. Penelitian ini dirumuskan untuk menjawab: (1) karakteristik tanah gambut
dan geofoam EPS; (2) kapasitas tarik dan mekanisme tahanan angkur heliks
tipe single helix dan double helix; (3) perilaku perpindahan,
deformasi, tegangan, dan zona plastis sistem pelat beton–geofoam–angkur
heliks akibat beban aksial dan gaya angkat, dengan dan tanpa pengaruh muka air;
serta (4) efektivitas single helix dan double helix dalam
meningkatkan kestabilan sistem. Penelitian dilakukan melalui pengujian
laboratorium, pendekatan analitis, dan simulasi numerik dua dimensi (PLAXIS
2D).Hasil penelitian menunjukkan pada beban aksial tekan sebesar 25 kN,
penggunaan double helix mengurangi perpindahan sebesar 16,4% pada kondisi tanpa
muka air dan 23,9% pada kondisi dengan muka air dibandingkan single helix.
Pada kondisi muka air 60 cm, tingkat mobilisasi kapasitas statis per angkur
mencapai sekitar 18% untuk single helix dan 36% untuk double helix.
Berdasarkan basis perbandingan yang sama, double helix mempertahankan
mobilisasi sekitar dua kali single helix pada kondisi tegangan efektif
rendah. Keunggulan double helix konsisten dengan mekanisme geser
silinder, sebagaimana ditunjukkan oleh rasio geometri S/D = 0,67, pola respons
hasil pengujian, serta taksiran tahanan geser selimut tanah di antara kedua
cakram. Penelitian mengungkap pula degradasi kapasitas
angkur akibat kenaikan muka air serta perubahan pola deformasi geofoam yang
dikendalikan oleh lebar pelat penahan, mulai dari kerusakan yang analog dengan
tusuk pada pelat 5 cm, deformasi plastis yang analog dengan geser lokal pada
pelat 10 cm, hingga respons elastis dengan penyebaran tumpuan yang lebih luas
pada pelat 20 cm. Dua persamaan empiris awal diusulkan pada penelitian ini.
Temuan ini menegaskan bahwa fungsi utama double helix adalah menahan
gaya angkat pada kondisi muka air tinggi, bukan penguat kapasitas tekan, dan
memberikan dasar kuantitatif bagi perancangan sistem perkuatan geofoam-angkur
heliks pada tanah gambut.