Abstrak
STRATEGI RETORIKA POLITIK DALAM PIDATO INAUGURASI PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, JOKO WIDODO, DAN PRABOWO SUBIANTO
Oleh :
Farida Trisnaningtyas - S262408005 - Fak. ISIP
FARIDA TRISNANINGTYAS, S262408005, STRATEGI RETORIKA POLITIK DALAM PIDATO INAUGURASI PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, JOKO WIDODO, DAN PRABOWO SUBIANTO. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan strategi retorika politik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), dan Prabowo Subianto dalam pidato inaugurasi kepresidenan sebagai sarana membangun legitimasi politik, citra kepemimpinan, dan hubungan simbolik dengan masyarakat. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis retorika, penelitian ini mengkaji teks pidato inaugurasi SBY (2004, 2009), Jokowi (2014, 2019), dan Prabowo (2024) dengan menggabungkan teori retorika Aristoteles (ethos, pathos, logos), retorika baru Chaim Perelman dan Lucie Olbrechts-Tyteca, serta teori identifikasi Kenneth Burke sebagai lensa interpretasi mekanisme psikologis dan simbolis di balik strategi persuasi ketiga presiden.Hasil penelitian menunjukkan SBY berorientasi pada logos dan ethos melalui argumentasi rasional dan penekanan stabilitas tata kelola pemerintahan; Jokowi dominan memanfaatkan pathos melalui bahasa sederhana dan narasi populis; sementara Prabowo menampilkan kombinasi ethos dan pathos yang kuat melalui retorika nasionalisme dan ajakan kolektif memperkuat kedaulatan bangsa. Ketiganya sama-sama menggunakan retorika sebagai instrumen legitimasi politik dan pembentukan identitas nasional, tetapi berbeda dalam pola argumentasi dan konstruksi citra kepemimpinan. Analisis identifikasi Burke mengungkap ketiga presiden konsisten menggunakan identifikasi eksplisit-implisit dan simbol pemersatu, sementara pola siklus guilt-purification-redemption secara khas hanya ditemukan pada pidato Prabowo.Penelitian ini menyimpulkan retorika kepemimpinan dalam pidato inaugurasi presiden Indonesia mengalami transformasi dari model teknokratis-rasional, menuju gaya populis yang komunikatif, hingga retorika nasionalis yang menekankan persatuan dan kemandirian bangsa. Integrasi teori identifikasi Kenneth Burke memperkuat pemahaman mengenai mekanisme psikologis di balik transformasi tersebut, khususnya bagaimana rekonsiliasi politik dan narasi kolektif membangun legitimasi kepemimpinan, sekaligus memperkaya kajian komunikasi politik dan retorika kepemimpinan di Indonesia.