Abstrak
Inovasi Pemanfaatan Limbah Kain Nilon Terhadap Kuat Tekan dan Penyerapan Air Paving Block
Oleh :
Gustio Setya Aryando Putra - V4223036 - Sekolah Vokasi
Perkembangan konstruksi di
Indonesia terus berjalan semakin pesat dari masa ke masa. Paving block dipilih karena memiliki kinerja
mekanik yang baik dalam segi kuat tekan, tetapi memiliki resistensi retak yang
rendah dan mudah pecah. Langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kualitas paving
block adalah dengan mengembangkan inovasi pemanfaatan material alternatif. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan limbah kain perca nilon
terhadap sifat fisik dan mekanik paving block sebagai upaya mendukung
pemanfaatan limbah tekstil dalam konstruksi berkelanjutan. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimental dengan mengacu pada SNI 03-0691-1996. Membuat paving
block menggunakan variasi penambahan serat kain perca nilon serta paving
block konvensional sebagai pembanding. Setelah umur perawatan 28 hari,
benda uji dilakukan pengujian kuat tekan, daya serap air, dan pola retak. Hasil
pengujian dianalisis untuk mengetahui pengaruh penambahan kain perca nilon
terhadap karakteristik paving block dan kesesuaiannya dengan SNI
03-0691-1996, serta alternatif pemanfaatan limbah tekstil yang ramah
lingkungan. Pada penelitian ini terdapat 4 variasi benda uji. Benda uji A
adalah paving block konvensional kuat tekan 15,18 MPa dan nilai
penyerapan air sebesar 12,62%. Benda uji B hasil kuat tekan sebesar 19,72 MPa
dan nilai penyerapan air sebesar 7,69% dengan komposisi 1% serat nilon. Benda
uji C hasil kuat tekan sebesar 18,51 MPa dan nilai penyerapan air sebesar 8,47%
dengan komposisi 1,5% serat nilon. Benda uji D hasil kuat tekan sebesar 14,99
MPa dan nilai penyerapan air sebesar 9,19% dengan komposisi 2% serat nilon. Berdasarkan
persyaratan SNI 03-0691-1996 yang menetapkan penyerapan air maksimum sebesar
10% untuk mutu D, maka benda uji B, C dan D dinyatakan memenuhi persyaratan,
sedangkan benda uji A tidak memenuhi persyaratan karena memiliki nilai
penyerapan air lebih dari 10%. Maka dari itu didapatkan variasi yang optimal
pada penelitian ini yaitu pada benda uji B dikarenakan memiliki kuat tekan yang
tinggi dan nilai penyerapan air yang paling rendah.