Abstrak


FENOMENA TREN PICK ME GIRL DI TIKTOK: ANALISIS PEMAKNAAN DAN DAMPAK SOSIAL PADA PEREMPUAN


Oleh :
Syafina Aulia Rahma - D0322125 - Fak. ISIP

Penelitian ini mengkaji fenomena tren Pick Me Girl di TikTok dengan fokus pada pemaknaan istilah, proses transformasi makna, serta dampaknya terhadap identitas dan relasi sosial perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kualitatif dengan pendekatan netnografi digital. Penelitian ini melibatkan delapan informan perempuan pengguna TikTok yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi konten digital. Teori yang digunakan merupakan teori Interaksionisme Simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Blumer. Konsep interaksionisme simbolik dalam penelitian ini mengacu  pada tiga premis dasar yang dikemukakan Blumer, yaitu  (1) Interpretasi: manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan kepada objek dan peristiwa di sekitarnya, (2) Interaksi: makna lahir dari interaksi sosial, dan (3) Makna: makna dimodifikasi melalui proses interpretatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa proses pemaknaan istilah Pick Me Girl terjadi melalui interpretasi aktif perempuan terhadap simbol-simbol misogini di konten TikTok dan pengalaman sehari-hari. Makna tersebut kemudian dikonstruksi secara kolektif melalui interaksi di ruang digital, mulai dari konten impersonate, likes, hingga negosiasi di kolom komentar, yang sekaligus menjadi arena lahirnya makna baru. Makna baru inilah yang kemudian dimodifikasi dan diperebutkan melalui proses interpretatif berkelanjutan, sehingga istilah Pick Me Girl mengalami pergeseran makna dari kritik terhadap misogini terinternalisasi menjadi label negatif yang digunakan untuk menghakimi perempuan yang memiliki preferensi berbeda. Transformasi ini terjadi melalui proses interaksi di TikTok yang melibatkan konten impersonate, komentar, dan negosiasi makna di ruang digital. Dampaknya, perempuan mengalami pembatasan ekspresi diri, kecemasan sosial, dan melemahnya solidaritas antarperempuan. Ironisnya, alat kritik yang awalnya bertujuan membongkar patriarki justru menjadi instrumen baru yang memperkuat fragmentasi di antara perempuan. Temuan ini memperkuat relevansi teori interaksionisme simbolik dalam menjelaskan konstruksi makna di ruang digital, sekaligus menunjukkan bahwa proses interpretatif yang berlangsung di TikTok memiliki konsekuensi nyata terhadap identitas dan relasi sosial perempuan di kehidupan sehari-hari