Abstrak
Analisis Wacana Kritis Berbasis Korpus Pada Pemberitaan MetroTV Tentang Kasus Intimidasi Kepala Babi Pada Jurnalis
Oleh :
Fairuz Rizky Ramadhani Kusindra - D0221034 - Fak. ISIP
FAIRUZ
RIZKY RAMADHANI KUSINDRA, D0221034, ANALISIS WACANA KRITIS BERBASIS KORPUS PADA
PEMBERITAAN METROTV TENTANG KASUS INTIMIDASI KEPALA BABI PADA JURNALIS,
Skripsi, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,
Universitas Sebelas Maret, 2026Kasus pengiriman bangkai kepala babi
ke kantor redaksi Tempo pada 20 Maret 2025, yang disusul tanggapan
kontroversial Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, menjadi
sorotan publik sekaligus indikator kondisi kebebasan pers di Indonesia. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana wacana pemerintah direpresentasikan
dalam pemberitaan MetroTV mengenai kasus intimidasi tersebut. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis berbasis
korpus (Corpus-Assisted Discourse Studies/CADS), didukung oleh Teori Hierarki
Pengaruh Isi Media Shoemaker dan Reese serta Teori Hegemoni Antonio Gramsci.Data dikumpulkan melalui teknik
scraping menggunakan Octoparse terhadap 61 artikel berita MetroTV periode 20
Maret–30 April 2025, kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak AntConc
melalui tiga tahap: frekuensi, kolokasi, dan konkordansi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kata "tempo", "hasan nasbi",
"teror", "kepala babi", dan "prabowo" merupakan
lima kata dengan frekuensi tertinggi dalam korpus. Tempo secara dominan
direpresentasikan sebagai korban intimidasi sekaligus simbol ancaman terhadap
kebebasan pers, sementara Hasan Nasbi diposisikan sebagai figur kontroversial
yang memicu polemik.Kata Prabowo secara konsisten
diasosiasikan dengan wacana evaluasi dan pemakluman, bukan kritik struktural
terhadap otoritas tertinggi kekuasaan. Berdasarkan kerangka Shoemaker dan
Reese, kepemilikan MetroTV oleh Surya Paloh—politikus pendukung pemerintahan
Prabowo-Gibran—tidak sepenuhnya menentukan arah pemberitaan, sebab MetroTV
tetap memproduksi berita yang tampak kritis terhadap respons pemerintah. Namun,
dalam perspektif hegemoni Gramsci, kritik yang dibangun tersebut cenderung
berhenti pada level individual (Hasan Nasbi) dan berfungsi mempertahankan
legitimasi kekuasaan, bukan sebagai bentuk kontra-hegemoni yang menggugat
struktur kekuasaan negara secara menyeluruh.
Kata kunci: Intimidasi pers, Analisis Wacana Kritis
Berbasis Korpus, CADS, Hegemoni, MetroTV, Tempo