Abstrak


Interaksi Simbolik dalam Komunikasi Kelompok (Studi Kasus pada Paguyuban Karya Salemba Empat Universitas Sebelas Maret)


Oleh :
Muhammad Akmal Hafizhi - D0222075 - Fak. ISIP

Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses pemaknaan yang terbentuk melalui interaksi simbolik dalam komunikasi kelompok pada Paguyuban Karya Salemba Empat Universitas Sebelas Maret (KSE UNS). Secara khusus, penelitian ini mengkaji pemaknaan anggota terhadap keberadaan Paguyuban bagi dirinya sebagai individu dan sebagai bagian dari kelompok, pengalaman keterbukaan, kesetaraan, dan dukungan dalam kaitannya dengan kohesivitas kelompok, serta pembentukan makna Paguyuban melalui praktik sosial dan kegiatan kelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus tunggal. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tujuh anggota Divisi Community Development dan dokumentasi pendukung. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dkk. yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, dengan bantuan open coding dan axial coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketujuh informan pada awalnya memaknai KSE sebagai pemberi beasiswa. Setelah terlibat dalam berbagai interaksi dan kegiatan, makna tersebut berkembang menjadi ruang pengembangan diri, pembentukan relasi, kenyamanan emosional, pembelajaran, dan kontribusi sosial. Sebagai bagian dari kelompok, Paguyuban dimaknai sebagai rumah atau keluarga yang diikat oleh dukungan, nilai bersama, tujuan sosial, dan tanggung jawab. Keterbukaan dirasakan melalui kesempatan menyampaikan pendapat dan didengarkan, kesetaraan melalui peluang untuk berpartisipasi, sedangkan dukungan hadir dalam bentuk dorongan, bantuan, kesediaan mendengarkan, saran, dan apresiasi. Meskipun pengalaman tersebut bersifat situasional dan belum selalu dirasakan dalam kadar yang sama, ketiganya memperkuat kohesivitas karena membuat anggota merasa diterima, dihargai, dan nyaman untuk tetap terlibat. Secara keseluruhan, makna Paguyuban dibentuk melalui pembagian peran, diskusi, koordinasi, penggunaan simbol dan istilah bersama, serta keterlibatan berulang dalam kegiatan kelompok. Proses tersebut memperluas pemaknaan beswan dari sekadar penerima beasiswa menjadi anggota kelompok yang aktif dan bertanggung jawab secara sosial.