Abstrak
Determinan Kemiskinan sebagai Dasar Penentuan Prioritas Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Papua: Pendekatan Spasial dan Proses Hierarki
Oleh :
Sanefaro Infun J Mofu - S422408008 - Fak. Ekonomi dan Bisnis
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Papua (2014-2023),
persentase penduduk miskin cenderung menurun, tetapi jumlah penduduk miskin
secara absolut masih meningkat di tengah pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini
menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kebijakan pemerintah belum sepenuhnya
mampu menurunkan kemiskinan secara konsisten dan merata. Oleh sebab itu, penelitian
ini bertujuan menganalisis determinan kemiskinan sebagai dasar merumuskan
kebijakan penanggulangan kemiskinan di 29 kabupaten/kota di Provinsi Papua pada
tahun 2014-2023. Analisis dilakukan menggunakan regresi spasial, Fuzzy C-Means,
dan Analytical Hierarchy Process (AHP). .Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kemiskinan membentuk pola spasial dan tidak tersebar secara acak. Hasil
penelitian menunjukkan adanya autokorelasi spasial positif dan signifikan,
dengan Spatial Durbin Model sebagai model yang paling sesuai. Determinan
yang menunjukkan pengaruh signifikan melalui efek langsung, tidak langsung,
atau total meliputi rata-rata lama sekolah, pengeluaran per kapita, penggunaan
atap tradisional, penggunaan lantai tanah, persentase belanja modal,
pertumbuhan penduduk, dan kontribusi sektor ekonomi primer. Berdasarkan
determinan tersebut, kabupaten/kota di Papua diklasifikasikan menjadi Klaster
Kemiskinan Multidimensi, Klaster Kesejahteraan Relatif, dan Klaster Kemiskinan
Moneter. Klaster Kemiskinan Multidimensi menjadi prioritas utama intervensi,
diikuti Klaster Kemiskinan Moneter dan Klaster Kesejahteraan Relatif. Prioritas
kebijakan utama meliputi penguatan UMKM OAP dan kewirausahaan berbasis potensi
lokal, pengembangan pertanian rakyat yang terintegrasi dengan hilirisasi, serta
pembangunan infrastruktur padat karya dan pemberdayaan tenaga kerja lokal.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan penanggulangan kemiskinan di Papua perlu
disesuaikan dengan karakteristik setiap klaster dan didukung koordinasi
antardaerah yang memiliki keterkaitan spasial.