Abstrak


REPRESENTASI KULTURAL: ANALISIS DENOTATIF DAN KONOTATIF DALAM "LAM NAFTARIQ LAKINNANA LAM NALTAQI ABADAN" KARYA MAHMOUD DARWISH


Oleh :
Sami Bin Nukman Nahdii - B0522064 - Fak. Ilmu Budaya

Mahmoud Darwish merupakan salah satu penyair Palestina yang karya-karyanya banyak merepresentasikan identitas, pengalaman eksil, dan memori kolektif masyarakat Palestina. Berbagai penelitian telah mengkaji syair-syair Mahmoud Darwish dari perspektif politik, nasionalisme, dan kritik sastra. Namun, penelitian yang mengungkap representasi kultural melalui analisis makna denotatif dan konotatif berdasarkan teori Geoffrey Leech masih relatif terbatas. Kesenjangan tersebut mendorong penelitian ini untuk menjawab dua rumusan masalah, yaitu bagaimana makna denotatif dan konotatif dikonstruksi dalam syair Lam Naftariq Lakinnana Lam Naltaqi Abadan karya Mahmoud Darwish berdasarkan teori Geoffrey Leech serta bagaimana representasi kultural dalam syair tersebut diinterpretasikan melalui perspektif Edward Said Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semantik. Data penelitian berjumlah 34 data, kemudian dipilih 23 data berdasarkan dominasi simbol, kekuatan makna, dan keterkaitannya dengan perspektif Edward Said. Analisis dilakukan melalui identifikasi makna denotatif, analisis makna konotatif berdasarkan teori Geoffrey Leech, kemudian interpretasi representasi kultural menggunakan perspektif Edward Said. Hasil analisis makna denotatif dan konotatif juga menghasilkan 19 simbol dominan sebagai sintesis pola makna dalam syair.Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi kultural dalam syair dibangun melalui hubungan antara makna denotatif dan makna konotatif yang membentuk simbol-simbol dominan Simbol-simbol tersebut merepresentasikan ruang, perjalanan, laut, rumah, waktu, kematian, ingatan, dan keterpisahan sebagai gambaran pengalaman kolektif masyarakat Palestina. Berdasarkan perspektif Edward Said, simbol-simbol tersebut merepresentasikan identitas, eksil, tanah air, memori kolektif, ruang kolonial, keterasingan, dan perlawanan kultural masyarakat Palestina. Penelitian ini menyimpulkan bahwa analisis makna denotatif dan konotatif berdasarkan teori Geoffrey Leech mampu menjadi dasar dalam mengungkap representasi kultural dalam syair Mahmoud Darwish. Dengan demikian, perpaduan teori Geoffrey Leech dan perspektif Edward Said memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai representasi budaya, identitas, dan pengalaman historis masyarakat Palestina dalam syair tersebut. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan kajian menggunakan pendekatan semiotika, stilistika, atau analisis wacana kritis, serta membandingkan karya Mahmoud Darwish dengan penyair Palestina lainnya.